Masyarakat Dituntut Bijak Konsumsi ‘Susu’ Kental Manis

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Walau telah gencar disosialisasikan sejak beberapa tahun lalu, namun hingga kini masih banyak masyarakat yang menganggap ‘susu’ kental manis sebagai susu. Padahal sebenarnya kental manis bukanlah susu, melainkan sekedar ‘topping’ (tambahan) dalam penyajian beberapa olahan. Kesadaran akan hal ini harus terus ditumbuhkan agar masyarakat dapat bijak dalam memanfaatkan produk satu ini.

Data yang diperoleh Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) menyebutkan kandungan gula dalam kental manis ternyata lebih dari 50 persen, sedangkan kadar susunya hanya 2 – 5,5 gram saja. Dalam survei yang dilakukan yayasan ini juga mendapatkan data sebanyak 97 persen ibu di Kendari dan 78 persen di Batam memiliki persepsi jika kental manis merupakan susu yang bisa di konsumsi layaknya minuman susu untuk anak.

“Kami juga melakulakukan di beberapa kota lainnya seperti Batam, Aceh, Sulawesi Utara dan Manado. Hasilnya kurang lebih sama, masyarakat masih beranggapan kental manis adalah susu,” jelas Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat dalam ‘Sosialisasi Bijak Mengkonsumsi Susu Kental Manis’ bekerjasama dengan Pengurus Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Omah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di kawasan Banguntapan Bantul, Kamis (20/02/2020).

Arif Hidayat menyatakan salah satu penyebabnya adanya persepsi tersebut yang dipahami dalam masyarkat, salah satunya yakni pengaruh iklan di televisi. Menurutnya selama bertahun-tahun kental manis selalu dicitrakan sebagai minuman bergizi yang dapat meningkatkan kesehatan keluarga maupun anak.

Selain itu dalam penjualannya di toko-toko, kental manis selalu diletakkan sejajar satu rak dengan produk-produk susu yang sebenarnya. Dengan begitu masyarakat beranggapan jika kental manis merupakan bagian dari susu sehingga bisa dikonsumsinya layaknya minuman bergizi.

Ia menambahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat kerja di DPR telah mengajukan usulan pemungutan cukai untuk minuman berpemanis tinggi dan konsentrat yang dikemas dalam bentuk kemasan, dalam hal ini termasuk SKM. Pemerintah menganggap minuman dengan kadar gula tinggi dapat membahayakan kesehatan, sehingga harus dikendalikan konsumsinya.

“Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan pemerintah. Ini juga sebagai salah satu upaya pemerintah untuk menjaga kesehatan masyarakat. Bayangkan kalau minuman tinggi gula seperti kental manis di konsumsi anak-anak, akan jauh lebih berbahaya,” ujarnya.

Terkait iklan kental manis, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebenarnya juga telah mengeluarkan peraturan yang ketat soal iklan. Peraturan tersebut diantaranya tidak boleh menggunakan model anak, tidak boleh diiklankan pada acara yang banyak ditonton oleh anak serta tidak boleh divisualkan dalam bentuk minuman dituangkan dalam air seolah minuman pengganti susu.

“Sebenarnya kandungan gula dan susu dalam kental manis sudah ada dalam labelnya. Jadi kita sebagai konsumen harus bijak. Dalam label juga sudah tertera kental manis tidak untuk bayi dibawah 1 tahun. Tetapi dibawah 3 tahun juga tidak bagus karena akan membuat anak adiksi dan menolak makanan yang manisnya dibawah kental manis,“ kata Diah Tjahjonowati mewakili Kepala Balai POM DIY.

Kabid Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Berty Murtiningsih mengatakan telah banyak tersiar dampak dari kental manis untuk anak-anak, namun masih saja masyarakat belum menyadarinya efek negatifnya. Selama ini ada yang menganggap kental manis merupakan minuman yang direkomendasikan untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak.

“Masyarakat harus sadar akan kesehatan dan itu harus dimulai dari dirinya sendiri. Pengetahun kesehatan orang tua juga harus ditingkatkan, agar nantinya tak salah memberikan asupan gizi yang baik untuk anak maupun keluarganya,” jelas Berty Murtiningsih.

Sementara itu Ketua Pengurus Wilayah Muslimat DIY, Hj Lutvia Dewi Malik mengatakan masyarakat harus memahami jika kadar susu dalam kental manis sangatlah rendah. Jadi kental manis tak bisa dijadikan fungsinya sebagai susu pengganti ASI bagi anak.

“Muslimat NU sebagai organisasi perempuan terbesar di Indonesia yang memiliki kader jutaan di berbagai daerah akan memberikan edukasi tentang kandungan kental manis dan dampaknya pada anak. Kami menghimbau kader dapat menyampaikan kepada masyarakat bahwa kental manis lebih banyak kandungan gulanya yang bila dikonsumsi secara rutin dapat berdampak bagi kesehatan anak-anak kita,” jelasnya. (*)

BERITA TERKAIT