Penyebaran Virus Corona di Indonesia dan Wuhan Berbeda

Editor: Agus Sigit

SITUASI penyebaran virus corona/Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia, berbeda dengan penyebaran yang ada di Maindland China, tepatnya Wuhan. Virus corona bahkan sudah semakin bermutasi, sehingga gejala yang ditimbulkan ada perbedaan.

Juru Bicara Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengatakan, pada gelombang pertama atau first wave, virus corona pertama kali muncul di Mainland China. Sementara epicentrumnya berada di Kota Wuhan.

Meski tidak berhasil ditahan secara maksimal, penyebaran virus corona di mainland China, diklaim dapat dibatasi dan dikendalikan.

Namun setelah itu, tepatnya pada gelombang kedua (second wave) penyebaran virus corona di luar Mainland China ternyata naik dengan cepat. Sebut saja Italia, Korea, dan Iran yang menjadi tiga negara dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi.

Artinya, pada gelombang kedua ini, virus corona telah mengalami banyak perubahan karakter dan pola mutasi. Indikasinya bisa dilihar dari masa inkubasi, gejala awal, dan lain sebagainya.

Pada gelombang pertama (first wave), masa inkubasi diklaim hanya 14 hari, yang diawali dengan gejala demam tinggi hingga kesulitan bernapas. Sementara pada gelombang kedua (second wave), terjadi perubahan pola mutasi yang cukup signifikan.

“Di gelombang kedua tidak seperti itu. Bisa dilihat dari transmisi di kapal Diamond Princess. Sebagian penumpang dan ABK yang dijemput oleh Pemerintah Amerika pada hari ke-14 (setelah dikatakan inkubasinya sudah lewat) ternyata sampai di negara mereka pada hari ke-21 dinyatakan positif,” tutur Yuri,” dilansir Okezone dari YouTube Channel Deddy Corbuzier.

Dalam arti lain, masa inkubasi yang telah ditetapkan oleh WHO selama 14 hari itu sudah tidak berlaku lagi, dan diralat menjadi 2×14 hari. Selain itu, saat ini banyak sekali kasus-kasus COVID-19 dengan gejala yang ringan, tidak seperti gejala pada gelombang pertama. Beberapa di antaranya bahkan dilaporkan tidak bergejala (asymptomatic).

“Kalau sudah demikian, berarti sudah tidak efektif lagi melakukan deteksi dini di pintu masuk negara mana pun yang kemudian hanya mengandalkan thermal scan. Karena banyak sekali kasus dengan suhu yang tidak terlalu tinggi, tanpa keluhan, kalaupun muncul hanya minimal,” ungkap Yuri.

Melihat perubahan karakter dan pola mutasi tersebut, Yuri pun membenarkan bila sewaktu-waktu penyebaran COVID-19 bisa melalui udara. Dengan demikian, penggunaan masker, serta penerapan pola hidup sehat dan bersih, tidak akan seefektif pada gelombang pertama dan gelombang kedua.

BERITA TERKAIT