Waspada, Gangguan Fungsi Ginjal Ini Sering Terjadi di Usia Produktif

Editor: Agus Sigit

Kamis 12 Maret 2020 ditetapkan sebagai Hari Ginjal Sedunia. Salah satu organ pada manusia ini memegang peranan penting dalam metabolisme tubuh. Meski demikian ginjal menjadi salah satu organ yang rentan mengalami kerusakan.

Ketua Umum PB PERNEFRI, dr. Aida Lydia, PhD, Sp. PD-KGH menyebut mayoritas masyarakat Indonesia mengalami gagal ginjal dan harus melakukan hemodialisa (cuci darah) pada rentang usia 45-64 tahun. Alhasil penderita gagal ginjal adalah masyarakat di usia produktif.

Seperti diketahui, gangguan fungsi ginjal terbagi menjadi dua. Gangguan ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara mendadak atau baru terjadi. Sementara gangguan ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang sudah lama terjadi lebih dari tiga bulan.

“Seseorang bisa disebut sebagai penderita ginjal kronik (PGK) apabila terdapat albumin atau protein terhadap urin. Bisa juga terjadi kelainan sedimentasi urin. Indikator kedua dengan adanya kadar kreatinin dalam darah,” terang dr. Aida kepada Okezone.

Selain itu PGK bisa juga diketahui dengan melakukan pemeriksaan histopatologi. Kelainan pencitraan dan riwayat transplantasi ginjal juga memiliki pengaruh terhadap PGK.

Lebih lanjut dr. Aida mengatakan satu dari tiga orang berpotensi mengalami gangguan ginjal kronik. Sayangnya hanya satu dari 10 orang yang tahu bahwa ia mengalami gangguan ginjal. Alhasil sembilan orang lainnya baru mengetahui saat sudah memasuki stadium lanjut.

“Stadium penurunan fungsi ginjal terdiri dari lima tahap, yakni 1, 2, 3a, 3b, 4, dan 5. Seseorang bisa disebut mengalami gagal ginjal kalau sudah sampai di stadium lima. Cara mengobatinya bisa dengan tiga cara yakni Hemodialisa (HD), Continous Ambulatory Peritonial Dialysis (CAPD) dan transplantasi ginjal,” tuntasnya.

BERITA TERKAIT