WHO Bakal Uji Kembali Prosedur Pemeriksaan COVID-19 di Indonesia

Editor: Agus Sigit

Beberapa waktu lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pernyataan bahwa Indonesia mampu mengidentifikasi keberadaan virus korona baru (2019-nCoV) penyebab COVID-19. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir akan penyakit ini.

Sampai sekarang pemerintah Indonesia tidak menemukan satu kasus COVID-19. Hal ini yang membuat masyarakat resah dan mengeluarkan anggapan bahwa Kementerian Kesehatan tak memiliki kapasitas dalam mengenali virus 2019-nCoV.

Tapi, sekali lagi dikatakan bahwa WHO telah memverifikasi fakta bahwa laboratorium Indonesia sudah sesuai dengan standar Indonesia. Karena itu, masyarakat jangan khawatir dengan tidak ditemukannya satu kasus COVID-19 di negara ini.

“WHO menyatakan bahwa Indonesia memiliki kapasitas tanggap di dalam kaitan pemeriksaan laboratorium. WHO telah melakukan pengecekan langsung ke Balitbang Kemenkes beberapa waktu lalu dan mereka (WHO) melihat apa yang dilakukan Indonesia sudah sesuai standar,” ungkap Sisditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Achmad Yurianto pada awak media di Kantor Kemenkes, beberapa waktu lalu.

Yuri melanjutkan, selanjutnya tim WHO bakal melakukan ‘double check’ lanjutan di beberapa aspek pemeriksaan laboratorium. Namun ia tak menjelaskan kapan ‘double check’ itu akan dilakukan.

Sementara itu, WHO bakal double check di aspek apa saja?

Yuri menuturkan, WHO akan melakukan ‘double check’ dimulai dari pintu masuk, kemudian dilanjutkan tata laksana penderita yang diawasi di rumah sakit. “Ini maksudnya pasien rumah sakit yang menunjukan gejala COVID-19, seperti demam tinggi, batuk, dan sulit bernapas,” terangnya.

Kemudian, WHO juga akan melakukan ‘double check’ pada proses pengambilan sampling pada pasien pneumonia. Jadi, ini diperiksa sekalian dengan kemungkinan ditemukannya pasien COVID-19.

Tidak hanya itu, WHO akan melakukan ‘double check’ pada pengambilan sample sampai teknik pengambilan spesimen. ‘Double check’ juga akan dilakukan pada proses pengiriman spesimen dari rumah sakit rujukan ke Balitbang Kemenkes.

“Yang sudah dilakukan ‘double check’ itu baru pada laboratorium Balitbang Kemenkes,” sambungnya.

Yuri menegaskan, pihaknya berharap WHO melakukan ini bukan dalam konteks tidak yakin dengan pekerjaan yang sudah dilakukan Kemenkes, tetapi memang sesuai dengan peraturan yang ada. “Ya, eksternal evaluasi itu penting agar yakin quality control dan quality insurance lebih meyakinkan dan semakin bisa dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT