Olah Sampah Organik, ‘Maggot’ Bakal Dikembangkan

UPAYA untuk meningkatkan pendapatan masyarakat terus ditingkatkan dengan berbagai cara salah satunya dengan kegiatan bermodal kecil, tetapi dapat meningkatkan perekonomian warga sekaligus berpartisipasi dalam pengolahan limbah (sampah) organik, Kali ini kelompok pemuda di Gunungkidul mulai mengembangkan budidaya maggot dan teknik biopori vertikal dalam pengelolaan sampah organik. Metode itu dinilai paling banyak memberikan manfaat dan relatif mudah diimplementasikan. Penggunaan maggot dan biopori vertikal dinilai efektif dalam mengolah sampah.

“Maggot atau ulat pembesaran belatung pengurai makanan memiliki banyak manfaat dan bisa dikembangkan dengan cara higienis dan bisa dijual dengan harga tinggi,” kata Ketua Kelompok Legowo Black Soldier Fly (BSF) Gunungkidul Sigit Banjar.

Maggot atau belatung merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) yang merupakan keluarga lalat, namun ukuran BSF yang dikenal sebagai lalat tentara ini, lebih panjang dan besar. Meskipun dari keluarga lalat, namun BSF tidak menularkan bakteri, penyakit, bahkan kuman kepada manusia. Seperti halnya belatung, maggot berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik. Maggot mengonsumsi sayuran dan buah. Tak hanya buah dan sayuran segar, maggot pun mengonsumsi sampah sayuran dan buah. Karenanya manggot sangat cocok digunakan dalam pengelolaan sampah organik.

“Sebanyak 10.000 maggot dapat menghabiskan 1 kg sampah organik dalam waktu 24 jam dan maggot sangat cepat berkembang biak,” tambahnya.

Selain bermanfaat untuk mereduksi sampah organik, maggot mempunyai nilai ekonomis dan bisa menjadi sumber pakan ternak dan pupuk tanaman, karena mengandung protein tinggi dan kandungan gizi yang baik untuk pakan ikan dan unggas. Maggot memiliki kadar protein sekitar 43 persen jika dalam keadaan utuh, sedangkan jika dijadikan pelet kadar proteinnya antara 30 sampai 40 persen.

Dibandingkan cacing, maggot lebih menguntungkan sebagai pakan ternak karena lebih cepat berkembangbiak dan cepat bisa dipanen. Dari menetas sampai bisa digunakan menjadikan panak ternak, hanya memakan waktu sekitar 17 hari. Sementara itu, sampah organik yang tidak termakan oleh maggot, tetap bisa dimanfaatkan sebagai sumber kompos atau pupuk organik.

Meskipun dari limbah sampah organik, namun pupuk yang dihasilkan tidak berbau. Pakan ternak dan pupuk yang dihasilkan dari maggot sangat cocok untuk peternakan dan pertanian organik. Penggunaan maggot bisa menekan penggunaan pakan dan pupuk berbahan kimia. Ikan, ayam pedaging hingga sayur yang menggunakan maggot, lebih sehat dibanding komoditas yang sama di pasaran karena semuanya organik.

“Selain mampu menekan volume sampah organik, maggot juga mempunyai nilai ekonomis dan bisa dijual dengan harga tinggi,” terang Pembina Kelompok Budidaya Magot Mayor Sunaryanta.(Bmp)

BERITA TERKAIT