Buka Paud, Yuni Shara Geluti Pendidikan

Buka Paud, Yuni Shara Geluti Pendidikan

JAKARTA, KRJOGJA.com – Penyanyi hits lagu-lagu lawas Yuni Shara mengatakan ,guru membuka wawasan murid dan mengajarkan banyak hal .

Mungkin guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, namun akan selalu dikenang,” cetus Yuni Shara,usai dikukuhkan sebagai tokoh perempuan PGRI penggerak perubahan di Jakarta, Jumat (21/2 2020) malam.

Wahyu Setyaningsih Budi nama aslinya, mengaku awalnya tidak pernah terpikir untuk terjun di dunia pendidikan, mengatakan dirinya ingin fokus pada pendidikan anak usia dini. Pendidikan anak usia dini, dinilai penting karena itu menentukan masa depan anak.

“Kami juga mengadakan kegiatan parenting, dengan wali murid. Lalu ada kegiatan ekstrakurikuler, seperti drum band, pewarnaan, paskibraka dan lainnya,” terang Yuni.

Yuni memuji para guru perempuan, yang menjadi teladan bagi kaum perempuan. Melalui guru,

Yuni Shara mengaku sudah menerapkan kebijakan Merdeka Belajar yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.

“Merdeka Belajar sudah saya terapkan jauh-jauh hari. Misalnya anak-anak saya belajar di luar kelas, pembelajaran menyenangkan, tidak mencekam,” ujar Yuni

Bahkan saking menyenangkannya belajar di sekolahnya, ada anak yang seharusnya sudah lulus sekolah namun enggan untuk tidak mau lulus.

Yuni Shara memiliki PAUD Cahaya Permata Abadi yang terletak di Batu, Malang, Jawa Timur. Sekolah tersebut merupakan sekolah nonprofit, yang mana biaya pendidikannya hanya Rp3.500 per bulan.

Di sekolah itu terdapat tempat penitipan anak, kelompok bermain, dan taman kanak-kanak.

“Sekolah saya banyak menangani anak-anak yang agak sulit. Ada yang tidak mau sekolah, tapi di sekolah saya mau sekolah.”

“Kami juga mengadakan kegiatan parenting, dengan wali murid. Lalu ada kegiatan ekstrakurikuler, seperti drum band, pewarnaan, paskibraka dan lainnya,” terang Yuni.

Pada kesempatan itu Yuni Shara didaulat ,sebagai Duta Guru ,sebagai tokoh perempuan PGRI penggerak perubahan.

“Saya tidak mungkin jadi seperti sekarang kalau tidak karena guru. Kalau sekarang saya diminta jadi duta perempuan PGRI, tentu sangat bahagia,” ujar Yuni, sambil tersenyum manis. Sejurus kemudian, cuplikan tembang-tembang lawas yang sempat dipopulerkannya, membahana dinyanyikan bersama para guru.

Tentu saja bukan sekedar rasa hormat pada guru yang membuat Yuni didampuk PGRI sebagai Duta Perempuan PGRI. Lebih dari itu, Yuni dinilai punya rasa kepedulian tinggi pada dunia pendidikan, khususnya bagi anak-anak kurang mampu.

Di Kota Batu, Malang, Jawa Timur tempat Yuni, kakak kandung artis Krisdayanti ini dilahirkan, sebuah sekolah PAUD berdiri sejak 7 tahun lalu.

PAUD Cahaya Permata Abadi itu bukan sekolah biasa. Yuni ‘menemukan’ sekolah itu dalam kondisi hampir roboh pada 7 tahun lalu. Tergerak hatinya, Yuni memutuskan membangun kembali sekolah itu dan mengelolanya sendiri.

“Saya ajak anak-anak saya ke Kota Batu saat itu untuk kenal kota kelahiran saya. Di tengah itulah saya menemukan sekolah yang hampir rubuh, yang kini berdiri untuk anak-anak kurang mampu,” kata Yuni.

Kini, sekolah itu selalu ramai dengan murid. Tidak kurang dari 100 orang setiap tahun ajarannya. Selain PAUD, ada juga kelompok bermain dan tempat penitipan anak. Semuanya juga disubsidi penuh oleh Yuni.

Di sekolah PAUD milik Yuni, siswanya hanya diminta membayar sebesar Rp2.500,- setiap bulannya. Jumlah itu hanya untuk sekedar memberi semangat orang tua untuk merasa memiliki sekolah. Tapi banyak orang tua yang tidak mampu membayar, maka Yuni tetap mengikhlaskan. “Kalau tidak mampu sama sekali ya tidak apa,” ujarnya.

Di sekolahnya, Yuni mengaku
sudah menerapkan kebijakan Merdeka Belajar yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.

“Merdeka Belajar sudah saya terapkan jauh-jauh hari. Misalnya anak-anak saya belajar di luar kelas, pembelajaran menyenangkan, tidak mencekam,” ujar Yuni

Bahkan saking menyenangkannya belajar di sekolahnya, ada anak yang seharusnya sudah lulus sekolah namun enggan untuk lulus.

Yuni mengaku tidak bermimpi memiliki sekolah seperti saat ini. Tapi dia senang sekali. Menurutnya, pendidikan anak usia dini dinilai penting karena itu menentukan masa depan anak.

“Kami juga mengadakan kegiatan parenting, dengan wali murid. Lalu ada kegiatan ekstrakurikuler, seperti drum band, pewarnaan, paskibraka dan lainnya,” terang Yuni.

Yuni memuji para guru perempuan, yang menjadi teladan bagi kaum perempuan. Melalui guru, membuka wawasan murid dan mengajarkan banyak hal.

“Mungkin guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, namun akan selalu dikenang,” cetus Yuni lagi.

Dalam setiap kesempatan, Yuni mengaku senang bertukar pandangan dengan para guru yang tidak pernah bicara kasar. Dia mengatakan, ada 14 guru bergelar sarjana PAUD yang mengajar di sekolahnya. Hampir semuanya mengajar tanpa mengatakan kata-kata ‘ jangan’ dan ‘awas’.

“Tidak perlu berkata jangan pada anak. Itu seperti mengekang kebebasan anak berkreasi. Ada kalimat lain yang dapat dijadikan pengganti. Dan guru-guru di sekolah saya semuanya memahami dan menerapkan larangan berkata jangan,” tandas Yuni. (Rini Suryati).

BERITA REKOMENDASI