‘Bumi Manusia’ Mengisahkan Minke Melawan Penjajahan Kolonial

ADA Hal besar yang ingin disampaikan Pramoedya Ananta Toer lewat buku 'Bumi Manusia'. Begitupula sutradara Hanung Bramantyo yang mengarahkan peran Minke, Annelies Mellema dan Nyai Ontosoroh. 

Baik di film maupun bukunya, 'Bumi Manusia' bukan hanya tentang romantika dua sejoli, tapi juga kemanusiaan dan harga diri bangsa yang sempat terinjak akibat penjajahan. Film dibuka dengan adegan Robert Suurhorf (diperankan Jerome Kurnia) yang menggedor pintu kamar Minke (Iqbal Ramadhan). Suurhorf adalah laki-laki sombong dan bangga dengan darah Eropa yang mengalir di badannya. 

BACA JUGA :

Gundala Libatkan 1800 Pemain Film

Film ‘Mahasiswi Baru’ Beri Contoh Belajar Tak Mengenal Usia

 

Dia kerap mencaci pribumi dan mengagungkan Eropa sebagai rumahnya. Sementara Minke adalah seorang anak bupati bernama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Ia menyembunyikan titel RM yang ia miliki dan hanya mengenakan nama Minke, tanpa nama belakang.

Pertemuannya dengan Annelies Mellema, sang pujaan hati juga berkat Suurhorf yang berkawan baik dengan kakak Annelies, Robert Mellema. Annelies memang perempuan campuran, lahir dari rahim pribumi bernama Sanikem atau Nyai Ontosoroh dan ayah seorang Belanda, Herman Mellema. Akan tetapi, di dalam jiwanya tersemat sosok Jawa tulen yang tak menyukai hingar bingar negeri Eropa.

Kisah cinta keduanya tak mulus. Perbedaan budaya membuat Minke dan Annelies memahami, akan ada banyak rintangan menghadang jika dua insan itu memutuskan untuk menikah. Konflik mulai berhamburan ketika sang ayah, Herman Mellema tewas dan Robert Mellema terlihat sedang asyik di pelacuran.

Rintangan ini yang membuka mata Minke. Sebagai laki-laki Jawa terpelajar ia harus menghadapi kenyataan bahwa praktek perbudakan terjadi di depan mata. Harga diri bangsa tak lagi tinggi. Padahal, menurut Minke, adab tidak memandang suku, ras maupun agama. Bumi manusia dan seisinya lebih baik tidak diwarnai dengan penjajahan.

Di titik ini, Minke melawan. Bersama sang ibu mertua, Nyai Ontosoroh, Minke melawan pengadilan kulit putih dengan sejumlah tulisan yang dicetak di surat kabar. Meski akhirnya memiliki akhir film menyedihkan, tapi Minke dan Nyai tak kalah. "Kita tidak kalah nak Nyo, kita telah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya," ujar Nyai menguatkan hati menantu.

Dalam premiere yang digelar di Empire XXI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang ikut menonton berharap para pembaca juga bisa menikmati karya visual dari novel Pram ini. (M-1)

BERITA REKOMENDASI