Cerita Djenar Maesa Ayu Dibalik Film ‘Mereka Bilang Saya Monyet’

YOGYA (KRjogja.com) – Film 'Mereka Bilang Saya Monyet' dalam acara 11th Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016, yang diputar Selasa (29/11/2016) membuat penasaran puluhan anak muda dengan film terbitan tahun 2007 tersebut. Selain itu kehadiran sang penulis sekaligus sutradara, Djenar Maesa Ayu menjadi daya tarik tersendiri.

Film berdurasi 90 menit ini diangkat dari novel yang berjudul sama. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang penulis perempuan bernama Adjeng yang dipenuhi lika-liku. Kehidupannya yang dipenuhi dengan ‘kesenangan’ seperti rokok, minuman keras, lelaki dan lain-lain ternyata menyimpan cerita tersendiri.

Masa lalunya dengan ibu yang keras, dan ‘lintah’ atau pacar ibunya telah membuat Adjeng tumbuh sebagai wanita yang berbeda. Ia yang keras kepala dan memiliki pacar seorang penulis senior ternyata masih selalu dibayangi masa kecilnya yang pernah dilecehkan oleh sang ’lintah’.

Film yang terkesan vulgar karena terdapat beberapa adegan kurang senonoh ini, ternyata telah mendapat banyak penghargaan dalam Festival Film Indonesia, yaitu Pemeran wanita terbaik (Titi Sjuman),  pemeran pendukung wanita terbaik (Henidar Amroe), dan Skenario Adaptasi Terbaik (Djenar Maesa dan Indra Herlambang).

Dalam sesi tanya jawab seusai pemutaran film yang bertempat di teras Gedung Societet Militair TBY, Djenar Maesa Ayu menceritakan beberapa cerita di balik film tersebut. Pemilihan pemeran utama, yaitu Titi Sjuman, yang kala itu sedang memulai debutnya di dunia perfilman didasari pemikiran bahwa seorang musisi memiliki sensitivitas yang tinggi.

“Titi adalah pemain yang baik. Meskipun ini pertama kali dia main tapi sensitivitasnya melebihi orang rata-rata. Saat kami berdialog dia lebih mudah untuk menyerap,” ujar Djenar dengan gaya khasnya, celana pendek, kaos tanpa lengan, sambil menenteng rokok dan bir kalengan.

Beberapa pertanyaan pun dilontarkan perihal buku dan filmnya yang selalu mengangkat perempuan sebagai tokoh utama. “Pertanyaan ini selalu muncul. Jawabannya adalah karena saya seorang perempuan, dengan anak dan cucu perempuan. Saya tahu betapa hidup tidak aman untuk anak-anak dan perempuan. Saya buat film sesuai apa yang ingin saya sampaikan dan tau bukan sesuai apa yang ingin ditonton. Isu-isu tentang perempuan tidak pernah selesai dan tidak membuat saya jenuh,” terang perempuan yang telah menulis 5 novel tersebut.

Perihal tanggapan masyarakat terhadap novel dan filmnya yang terkesan vulgar dijawab Djenar dengan santai.” Orang sekarang sukanya menggugat moralitas bukan karya dan kontennya. Pernah saya menemukan komentar di blog ada yang mau merajam saya. Itulah mengapa komunitas dan festival seperti JAFF ini dibutuhkan untuk mempertemukan seniman dengan penontonnya. Agar pesan yang ingin disampaikan sang pembuat tersalurkan dengan jelas jadi penonton tidak hanya menebak-nebak,” ujar perempuan yang mengaku tidak pernah membuat plot saat menulis ini. (Mg-19)

 

BERITA REKOMENDASI