Dua Garis Biru, Pentingnya Sex Education Sejak Dini

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Optimisme, membicarakan hal sulit secara terbuka, dan menghormati kesalahan sebagai perjalanan hidup merupakan semangat yang diangkat oleh Gina S Noer, penulis naskah Dua Garis Biru. Bercerita tentang keluarga dan kehamilan di luar nikah, Film Dua Garis Biru  menjadi nominasi JAFF Indonesia Screen Award 2019. Film ini memberikan banyak pelajaran pada anak muda, khususnya sex education.

Pada awal Film Dua Garis Biru, diceritakan sosok Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Adhisty Zara) yang masih duduk di bangku SMA, melakukan hubungan seksual di luar nikah dan berakibat kehamilan. Tak cukup sampai disitu, mereka yang tadinya berusaha menutup dari orangtuanya kemudian terbongkar dan berakibat dikeluarkan dari sekolah.

Meski mengandung banyak pesan moral, film Dua Garis Biru juga mendapat penolakan dari berbagai pihak. "Beberapa guru menyarankan muridnya untuk tidak menonton film ini, hal tersebut membuat saya miris menggingat sex education seharusnya dimulai sedari dini," ungkap Gina saat QnA JAFF (21/11/2019) di Empire XXI.

Merombak dari naskah sepuluh tahun lalu, terdapat beberapa perbedaan dari naskah dahulu dan sekarang. Ditulis pada tahun 2002, saat itu HIV/AIDS menjadi perbincangan panas di masyarakat. Bahkan, Gina mengungkapkan bahwa saat itu distribusi kondom dilakukan secara bebas.

Gina yang masih remaja kemudian menulis naskah tersebut dengan rasa penasaran terhadap seks. Namun, ketika sudah berkeluarga, padangan Gina berubah. "Saya kemudian berpikir bagaimana menjadi ibu yang dapat melindungi anaknya dari kerasnya dunia," ujar Gina. Hal tersebut relevan dengan naskah Dua Garis Biru yang ditulisnya.

Adegan berkesan menurut Gina pada film Dua Garis Biru adalah saat Ibu dari Bima bisa menerima kesalahan Bima. Cinta tulus dari orangtua dan penerimaan bahwa keluarga mempunyai kesempatan kedua membuat Gina terharu. "Bahkan saya menulis bagian tersebut sambil menangis teringat dengan anak keduanya yang lahir dengan bibir sumbing," ungkap Gina.

Tidak lupa, Gina memberikan pesan kepada teman-teman yang ingin mengikuti jejaknya menjadi penulis skenario untuk belajar sabar dari setiap kegagalan yang dihadapi, karena kegagalan adalah modal terbaik untuk dapat  menjadi penulis skenario. (Brigitta Adelia)

 

BERITA REKOMENDASI