Film Ip Man 4: The Finale, Jilid Pamungkas untuk Para Penggemar

Ip Man 4: The Finale menjadi babak pamungkas dari rangkaian perjalanan Sang Guru. Dimulai dengan Ip Man (2008) yang meraih 12 nominasi di Hong Kong Film Awards, Ip Man 2 menyusul 2 tahun kemudian.

Jilid ketiga Ip Man berlaga pada 2015 dan diakhiri dengan Ip Man 4: The Finale tahun ini. Masih menempatkan Donnie Yen sebagai pemeran utama, Ip Man 4: The Finale berlatar pengujung dekade 1970-an, saat isu rasialisme di Negeri Paman Sam menyengat.

Tema Ip Man 4: The Finale terasa relevan dengan wajah dunia yang belakangan rajin menyuarakan topik keragaman. Apakah Ip Man 4: The Finale menjadi penutup yang memuaskan?

Dalam jilid ini, Ip Man (Donnie) ditinggal mati sang istri. Ia kini hidup bersama Ip Ching (Ye He). Ip Man berencana menyekolahkan anaknya ke Amerika Serikat. Terbang ke AS dan menetap di sana selama beberapa hari, Ip Man menitipkan Ip Ching kepada Fatso (Kent). Ip Ching menolak disekolahkan di AS.

Ia bahkan tak mau lagi bicara dengan Ip Man. Diam-diam, Ip Man menyimpan rahasia, yakni mengidap kanker akibat gemar merokok. Di AS, Ip Man mencari surat rekomendasi agar anaknya diterima di sana. Ip Man menemui ketua organisasi masyarakat Tionghoa di sebuah kawasan Pecinan. Sang ketua malah berkeluh kesah soal sepak terjang murid Ip Man, Bruce Lee (Danny) yang mengajar seni bela diri Win Chun lalu menerbitkan buku.

Buku ini dinilai meresahkan publik. Di sisi lain, gadis bernama Yonah (Vanda) dirundung Becca (Grace) dan kawan-kawan. Yonah melawan. Dalam kondisi terdesak, ia ditolong Ip Man. Becca yang terluka di wajah mengadu ke orang tuanya. Insiden ini berbuntut panjang.

Ada pembagian yang sangat jelas dalam Ip Man 4: The Finale yakni bagian drama dan aksi. Dalam satu segmen drama acapkali berujung konflik dan adu fisik. Misalnya, Ip Man asyik mengbrol dengan Bruce Lee lalu sekumpulan bule datang hanya untuk meledek seni bela diri Tiongkok.

Tak terima, terjadi baku hantam dan sambil merem kita tahu siapa pemenangnya. Formula ini berulang dengan tokoh protagonis dan antagonis berbeda. Repetisi ini membuat Ip Man 4: The Finale makin ke belakang makin kehabisan gereget.

Penonton akhirnya makin santai sambil menanti babak akhir film ini menyajikan duel Ip Man dengan siapa, mengingat ada sejumlah tokoh antagonis yang dengan motivasi beragam.

Catatan lain yang membuat Ip Man 4: The Finale terasa klise, tokoh utama menjadi one man show. Segala konflik yang terjadi di film ini bermuara di pundaknya. Efek positifnya, penonton punya ikatan batin kuat dengan sang tokoh utama. Negatifnya, Ip Man yang bersahaja kurang dimanusiakan.

Beruntung, drama di keluarga kecilnya mampu menarik simpati kita. Kesan klise kembali menguat saat kami mendapati gep yang jelas antara barisan pemain bule dengan yang berwajah oriental. Ada garis pembeda yang tegas. Garis itu memperlihatkan para pemain bule di film ini digambarkan jahat. Kita tahu siapa kubu protagonisnya.

Satu-satunya bule yang baik hati bisa jadi orang Afrika-Amerika yang ndilalah punya ketertarikan pada seni bela diri Tiongkok. Haruskah ada garis pembeda setebal ini? Itulah pertanyaan yang sejak awal menggelayut di benak kami.

Soal akting, Donnie Yen tampak menyatu dengan Ip Man. Berkali-kali membintangi, kita melihat sosok Ip Man yang bersahaja, layak disebut jagoan namun tidak sok jagoan. Sempurna sebagai tokoh utama.

Di sisi lain, darinya pula kita melihat ketidaksempurnaan, yakni hubungannya dengan anak. Adegan di telepon berlangsung sikat, efektif membuat kami berlinang air mata.

Wilson Yip hanya butuh satu adegan untuk memperlihatkan bahwa jilid akhir ini dibuat dengan hati, menyatukan dua generasi lewat sebuah momen sedih. Akting Donny Yen dan Ye He di adegan ini berhasil meremas hati.

Pujian juga patut diberikan kepada Kent Cheng yang dulu mencuri perhatian lewat Chasing The Dragon. Sebagai sahabat sekaligus paman, kehadirannya mutlak diperlukan untuk menjembatani kebekuan hubungan ayah dan anak sekaligus mencairkan suasana. Usai menonton film ini, kami jadi kepikiran mencari sahabat sebaik Fatso.

Sebagai sebuah penutup, Ip Man 4: The Finale memberi sentuhan akhir yang ciamik dan melegakan dalam kemasan bersahaja. Waralaba Ip Man memperlihatkan konsistensi dalam mengemas babak-babak kehidupan Sang Guru. Sulit untuk memilih mana dari keempat jilid ini yang paling oke. Mengingat, keempatnya digarap sineas yang sama.

Wilson Yip tahu persis benang merah yang mestinya menghubungkan film demi film. Tema besar apa yang disajikan pada masing-masing jilid agar tak bertubrukan atau berat sebelah. 

Jilid pertama tentu membekas mengingat yang pertama biasanya mudah dikenang oleh pikiran. Yang terakhir ini pun sulit diabaikan begitu saja. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, Ip Man 4: The Finale tetap layak diapresiasi.

Ia memungkinkan audiens mendapat gambaran lebih utuh tentang seorang legenda yang kemudian melahirkan legenda lainnya. Dituturkan dengan ringkas, film ini berhasil membagi pilar drama dan aksi dengan adil. Inilah kunci yang membuat Ip Man 4: The Finale tetap berisi dan bisa dinikmati. Inilah tanda mata terakhir Ip Man untuk kita.(*)

BERITA REKOMENDASI