Film Perjuangan yang Berbalut Intrik Kerajaan

JIKA Nani Nurani Affandi, seorang penyanyi perjuangan kebanggaan Bung Karno pernah mengatakan “Anda dapat mengurung sang penyanyi, tapi tidak nyanyiannya.” Maka sebuah film perjuangan seolah ingin mengatakan hal yang sama, namun dalam konteks yang sedikit berbeda. "Anda dapat menghilangkan kejadiannya, tapi tidak semangatnya.”

Film Indonesia tidak melulu bertemakan cinta, komedi atau horror saja. Ada juga film-film bertemakan nasionalisme yang ternyata sangat diminati oleh masyarakat. Film tersebut memang bertujuan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme di kalangan anak muda.

Sebut saja film Kartini, Sang Pencerah, Sang Kyai, Jenderal Soedirman, Soekarno: Indonesia Merdeka serta beberapa film perjuangan lainnya nyatanya juga digemari kalangan muda meski tidak sepopuler film manca. Meski demikian, kehadiran film perjuangan patut menjadi perhatian dan apresiasi ditengah krisis kebangsaan dan rasa nasionalisme saat ini.

Nasionalisme harus dibentuk dan dibangun secara manifestasi melalui berbagai teori dan praktek sehingga mampu menghasilkan sebuah paradigma dan lambat laun menjadi kenyataan yang universal. Dalam membangun ide nasionalisme secara utuh memerlukan pemahaman dan organisasi berbasis gerakan untuk bertransaksi secara sosial dengan masyarakat, sehingga pada akhirnya terjadi interaksi kuat antara organisasi dan massa dalam satu ide, yaitu nasionalisme.

"Rasa nasionalisme adalah penting demi mempertahankan integritas sebuah Negara. Perlu diketahui, nasionalisme itu kunci integritas suatu Negara. Semangat yang dulu begitu menggebu-gebu dari Founding Fathers, Sumpah Pemuda serta pergerakan perjuangan seolah-olah sirnah termakan waktu, tidak diteruskan. Terlihat juga bukti konkret lainnya tentang beberapa daerah yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah menjadi suatu bukti yang jelas bahwa nasionalisme Indonesia sudah pudar. Salah satu upaya untuk memupuk rasa nasionalisme adalah dengan media film," ujar Nanang Rahmat Hidayat, Dosen Televisi dan Film, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Nanang R Hidayat menunjukkan gambar sejarah Garuda sebagai lambang negara Indonesia di museum Rumah Garuda.

MENGANGKAT KEHEBATAN FILM PERJUANGAN

Semangat perjuangan Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma mengusir penjajah Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) di abad ke-16 memberi inspirasi Dr BRAy Mooryati Soedibyo SS MHum untuk memproduksi film kolosal tentang Raja ketiga Kesultanan Mataram tersebut. Menggandeng sutradara kenamaan Indonesia, Hanung  Bramantyo,  Mooryati ingin mewujudkan film tersebut karena nilai sejarah dan pelajaran besar yang bisa dipetik para penonton khususnya generasi muda.

”Ini merupakan cita-cita saya, keinginan saya di usia 90 tahun bisa menghasilkan film kolosal. Film ini sarat nilai sejarah karena Sultan Agung merupakan pahlawan sekaligus  raja  pertama  Mataram yang telah merangkul hampir seluruh Pulau Jawa melawan hegemoni VOC dulu,” ujarnya dalam jumpa pers film ‘Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta’ di Hotel Sheraton Mustika, Yogyakarta.

Sang sutradara Hanung Bramantyo menambahkan, dalam film ini bakal diceritakan kisah hidup Raden Mas Rangsang (nama kecil Sultan Agung) yang sempat merasakan cinta pertama dengan Roro Lembayung. Namun, setelah menjadi raja karena ayahnya meninggal saat berburu maka Sultan Agung harus merelakan cintanya ketika harus menikah dengan Kanjeng Ratu Batang untuk menyatukan kerajaan.

"Kami juga ingin menampilkan role model seorang raja pada masa itu, di mana panembahan yang lain terhadap VOC kompromis tapi Sultan Agung ini justru tak ingin kompromi karena menurut dia tak boleh orang luar mengambil kekayaan dengan gampang. Angle ini penting dan akan disampaikan dalam film ini," ungkapnya.

Untuk membangun keakuratan data, Hanung bahkan menggandeng sejarawan dari Yogyakarta dan Solo seperti Prof Djoko Suryo hingga Dipokusumo dan Tedjowulan dari Solo. Tak hanya itu, untuk menunjang setting lokasi, sutradara Ayat-Ayat Cinta ini bakal membuat Kraton baru yang sesuai dengan latar tahun 1600-an.

"Karena itu kemungkinan tayang masih tahun depan tapi belum tahu bulan apa karena riset harus sangat menyeluruh. Setting latar kita kan tahun 1600-an dan di Pleret situsnya tinggal sedikit jadi kita harus membangun kraton baru agar lebih akurat maka tak terburu-buru," sambungnya.

Cerita yang coba dibangun dengan runtutan yang sebenarnya. Sehingga nantinya bakal ada alur cerita yang menggambarkan kerajaan Mataram yang sesungguhnya, mulai dari naiknya tahta sang raja, pergelutan internal kerjaaan, intrik di dalam keluarga kerajaan, cerita percintaan sang raja hingga semangat para pendekar dan masyarakat dalam menghadang gurita kekuasaan VOC. Individu yang dihadirkan juga bakal semirip aslinya, dengan karakter yang melekat sangat kuat.

Untuk memerankan Sultan Agung, Hanung menggandeng aktor berpengalaman Ario Bayu yang memang dirasa sangat cocok menjadi sosok raja Mataram tersebut. "Kami berharap film ini bisa membawa warna baru di sinema Indonesia serta membawa banyak hal positif bagi anak-anak muda bahwa ada tokoh pahlawan nasional yang punya keteguhan hati," pungkasnya.

Mooryati Soedibyo bersama Hanung Bramantyo dan sejarawan UGM saat memberikan penjelasan pada wartawan.

BUKAN PASAR TAPI IDEALISME

Di Indonesia, film telah terulas sejak zaman Hindia Belanda. Pada 1939, RM Soetarto yang menjadi salah satu perintis film di Tanah Air, membuat sebuah film dokumenter bagi Belanda. Mulanya, pembuatan film dokumenter oleh Kolonial Belanda sekadar bertujuan sebagai media penukar informasi.

Film syahdan dijadikan media untuk menyampaikan beragam kegiatan pemerintah kolonial, termasuk budaya masyarakat kolonial. Alhasil, kebanyakan dokumenter yang dibuat dengan jarak framing dan menempatkan kedekatan emosional dengan subjek yang dihadirkan.

Khusus untuk masyarakat Indonesia, ketika itu, film yang dibuat hanya diperuntukan bagi para penonton "film pes" atau wabah film.

Sebagai media propaganda, Kolonial Belanda menjadikan film sebagai alat untuk mendukung kebijakan yang telah dibuat. Magnus Fanken Lan Aan de Overkant atau The Land Across (1939) bisa menjadi contoh.

Saat itu, The Land Across dijadikan alat untuk membujuk petani Jawa berpindah ke wilayah perkebunan baru yang dibuat Belanda di Sumatera. Di era kependudukan Jepang, keberadaan film dokumenter tetap dipertahankan.

Pada 1942-1945, Nippon menggunakan film dokumenter sebagai media propaganda perang, termasuk upaya memobilisasi pribumi untuk mendukung perang Jepang di Asia Pasifik. Tak heran, Jepang hanya memperbolehkan penayangan film dokumenter, seturut menutup deretan studio film milik Belanda.

Paguyuban Filmmaker terus mengumandangkan idealisme dalam proses pembuatan film.

Kini, film berganti cerita. Sineas Tanah Air memanfaatkan sajian film dengan tema perjuangan sebagai upaya untuk mengangkat rasa cinta tanah air yang kendor. Tapi, imbas kurang minatnya masyarakat menonton film perjuangan, termasuk persoalan anggaran, para pembuat film bertema perjuangan harus memiliki konsistensi, tekad, dan idealisme untuk menyelesaikan proses panjang guna menghasilkan karya.

Semoga dengan semangat membara para sineas muda Indonesia, idealisme film perjuangan masih tetap hidup meski ceruk pasar dan peminat tak sebanyak film action, horor maupun percintaan. (Danar Widiyanto)

BERITA REKOMENDASI