Garin Nugroho: Setiap Film Adalah Peta Baru

RANGKAIAN acara JAFF yang berlangsung pada akhir pekan lalu di studio Cinemaxx Lippo Plaza menampilkan empat film pendek besutan sutradara dan produser film kondang, Garin Nugroho. Ada empat film pendek karya Garin yang ditayangkan, diantaranya adalah Gerbong 1.2.3, Aikon ‘ Sebuah Peta Budaya’, Jendral Kantjil Untuk Kemerdekaan, dan My Film My Family My Nation. 

Dihadiri puluhan penonton, film yang dibuat antara tahun 1989 – 2000 an ini menghadirkan realita kehidupan masyarakat Indonesia di berbagai wilayah. Sebut saja Aikon ‘Sebuah Peta Budaya’ yang menceritakan tentang Kongres Papua Merdeka. Jendral Kantjil Untuk Kemerdekaan, kisah tentang anak jalanan di Yogyakarta yang datang dari berbagai wilayah dengan berbagai latar belakang.  

Selain menikmati karya Garin dalam layar, penyelenggara juga menghadirkan Garin dalam sesi tanya jawab setelah film diputar. Dalam sesi tersebut Garin bercerita mengenai pengalamannya dalam membuat film yang dianalogikan dengan sumber daya alam yang ada di sekitar kita. Menurutnya, setiap film adalah “menyimpan bekal untuk sebuah perjalanan panjang.”
Film – film yang ia ciptakan bagaikan sebuah peta – peta baru dalam sebuah perjalanan. Selalu ada tujuan baru dan pengalaman baru yang di dapat.  

“Males saya pemandangannya sama terus. Saya lebih baik mendaki gunung di tempat lain. Mungkin jatuh – jatuh, gurunya baru, caranya baru, tapi lihat pemandangan baru,” terang Garin ketika menganalogikan ambisinya dalam membuat film dengan berbagai genre dalam kurun waktu yang berdekatan. 

“Bagaimana cara mas Garin bisa mempertahankan produksi film. Untuk pendanaannya itu seperti apa?” tanya Yudi (25) seorang pengunjung kepada Garin yang dijawab dengan analogi juga. Garin menganggap dirinya sendiri sebagai tanaman langka yang juga membutuhkan tanah langka  untuh tumbuh. Sebagai tanaman langka, Garin harus mencari tanahnya (pasarnya) sendiri dalam menawarkan film – film besutannya. 

Selain itu, Garin juga berpesan untuk tetap berkarya di saat krisis. Di usianya yang ke 57 tahun, Garin mengaku melihat perkembangan film Indonesia yang semakin baik. Ada berbagai film dengan kualitas dan mutu yang baik. Berkarya di tengah krisis adalah sebuah tantangan, bukan di tengah kesuksesan. 

Ada tiga hal paling penting untuk mendapatkan bantuan dalam produksi filmnya, salah satunya adalah dukungan finansial. Pertama adalah ‘gagasan’, kedua ‘memahami potensi diri’, ketiga ‘segala hal memerlukan proses finansial’. Selain tiga hal tersebut, ada satu hal lagi yaitu spiritualias dalam film. Yaitu sebuah keyakinan bahwa setiap tanaman ada tanahnya.  

Di akhir sesi Garin mengucapkan terimakasih kepada penonton karena telah hadir dan menonton 4 film pendek karyanya yang sudah di produksi beberapa tahun lalu.(Mutiara Chika/UIN)

 

BERITA REKOMENDASI