Hanung Bramantyo: Butuh ‘Permen’ dalam Produksi Film

YOGYA (KRjogja.com) – Siapa yang tak mengenal film Rudy Habibie? Film yang berasal dari kisah nyata dari seorang mantan Presiden Republik Indonesia, B.J Habibie. Film yang menceritakan tentang masa muda dari seorang visioner bernama Rudy (panggilan kecil BJ Habibie).

Sebelum menjadi film, kisah nyata Rudy Habibie telah ditulis oleh Gina S. Noer ke dalam novel yang berjudul sama. Kemudian dibuatlah menjadi dalam sebuah karya film yang diadaptasi dari novel tersebut oleh seorang sutradara kondang, Hanung Bramantyo.  

Pemutaran film Rudy Habibie kembali diputarkan di layar bioskop. Tayang kembali pada acara 11th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2016 dengan mengusung tema ISLANDSCAPE di Studio Empat Empire XXI, pada hari Selasa (29/11/2016). JAFF 2016 sendiri berlangsung hingga 3 Desember 2016 dengan mengambil venue di Empire XXI, Grahatama Pustaka dan TBY.

Hampir semua film yang diproduksi oleh Hanung adalah garapan dari sebuah novel. Memilih novel sebagai alur cerita pembuatan film-nya bukan tanpa alasan. Selaku pembuat film, Hanung tidak berhenti hanya memikirkan bagaimana isi konten pada film yang Ia garap.

Hanung juga memikirkan bagaimana masyarakat mau beranjak dari rumah untuk akhirnya pergi ke bioskop, untuk menonton film. Salah satu yang dilakukan Hanung adalah, mengadaptasi cerita dari novel untuk kemudian diangkat menjadi film.

Ketika Hanung ditemui oleh wartawan krjogja.com, Ia bercerita bahwa film yang diproduksi tidak melulu hanya tentang biografi dari seorang tokoh Nasional. Hampir semua film karyanya diadaptasi dari sebuah novel seperti Perahu Kertas.

Karena sekarang ini susah sekali membawa penonton dari rumah, untuk pergi menonton ke bioskop. Kalau tidak ada ‘permen’, tidak ada sesuatu yang membuat penonton tertarik, sangat susah menggerakkan mereka untuk ke bioskop.

Cara yang Hanung lakukan adalah dengan, menjadikan novel sebagai ‘permen’ untuk menarik minat masyarakat agar pergi menonton ke bioskop. Skenario yang berasal dari novel sebagai pemantik ke masyarakat.

“Cerita yang diambil dari novel itu sangat mudah menarik perhatian masyarakat untuk pergi menonton ke bioskop. Karena mereka penasaran, dan akhirnya pergi ke studio bioskop untuk menonton film-nya” cerita Hanung ketika ditemui oleh krjogja.com seusai pemutaran film Rudy Habibie. (Mg-18)

Baca Juga :

Hanung Bramantyo : Jangan Membuat Film Sekadar Mengikuti Trend

Cerita Djenar Maesa Ayu Dibalik Film 'Mereka Bilang Saya Monyet'

Kisah Keluarga Multitafsir di Film 'Harmonium'

BERITA REKOMENDASI