Indonesia Butuh Ruang untuk Festival Film

YOGYA (KRjogja.com) – Indonesia saat ini sangat membutuhkan sekali ruang festival untuk memperlihatkan hasil film karya anak daerah atau Indie, agar bisa diketahui oleh masyarakat luas dalam tingkat Nasional maupun Internasional. Seperti dibentuk dan diadakannya festival-festival film seperti JAFF dan BALINELE.

Hal tersebut dikatakan oleh Ajish Dibyo selaku pembicara pada Public Lecture 2 yang membahas tentang Asia Pasific Film Market, di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana lantai 4 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Acara Public Lecture tadi pagi Kamis (1/12/2016) dihadiri oleh sekitar 50 peserta yang didominasi oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY. Public Lecture sendiri merupakan serangkaian acara dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2016, yang telah berlangsung 01 hingga 03 Desember 2016.

Banyaknya karya anak Negeri dalam industri perfilman saat ini patut diacungi jempol. Tingginya minat mereka untuk memproduksi film yang mengangkat berbagai macam isu daerah ataupun nasional, mengantarkan mereka untuk hadir diberbagai festival nasional bahkan Internasional.

Seperti karya film pendek berjudul Prenjak yang dibuat oleh anak muda asal Yogyakarta, yaitu Wregas Bhanuteja dan tim. Mereka merupakan salah satu contoh pembuat film yang berasal dari daerah dan membuat film berasal isu kebudayaan daerah, yang akhirnya mampu mendapat penghargaan di kancah internasional yaitu Festival Film Cannes 2016 di Perancis.

Namun, karya anak negeri tersebut lebih dahulu dilihat dan diapresiasi oleh pihak luar negeri. Dikarenakan kurangnya ruang bagi filmmaker Indie, mereka mengawali pemutaran karyanya yaitu dengan mengikuti festival-festival yang lebih banyak diadakan di luar negeri. Karena di Indonesia belum mempunyai banyak ruang untuk memfasilitasi filmmaker Indie untuk hal itu.

“Produsen film Indonesia seperti penjual kacang. Dimana mereka harus bertemu langsung ke pembeli agar jualannya dibeli orang. Tidak ada regulasi yang jelas untuk akhirnya memilah-milah film Indonesia yang didahulukan” kata Ajish selaku filmmaking.

Oleh karena itu, saat ini Indonesia sudah mulai peka terhadap ‘kasus-kasus’ yang terjadi di dunia perfilman. Sehingga perlahan-lahan telah membuat atau memfasilitasi para filmmaker untuk mempertontonkan karyanya diberbagai festival Indonesia seperti Festival Film Indonesia (FFI), Apresiasi Film Indonesia (AFI) dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). (Mg-18)

BERITA REKOMENDASI