Kenapa Disebut Film Biru? Ini Alasannya

DI beberapa negara, termasuk Indonesia, pornografi masih terbilang hal yang tabu dibicarakan di tempat umum. Masih banyak orang yang menggunakan beragam istilah (kadang diciptakan sendiri) ketika membicarakan hal tersebut. Satu kata yang kerap tercucap saat membahas pornografi adalah film biru.

Terkait hal itu, pernahkah Anda bertanya pada orang lain atau dalam hati tentang mengapa film porno sering disebut sebagai film biru? Langsung saja, berikut sejumlah alasannya, sebagaimana dilansir laman Boldsky.

Alasan pertama
Toko video atau VCD zaman dulu diketahui mengemas kaset VSR berdasarkan jenis film. Dalam hal ini, pihak toko selalu mengkategorikan jenis film yang dijual atau disewakan. Mereka akan menggunakan kantong kertas warna biru untuk kategori film dewasa dan kantong kertas putih untuk film-film bergenre normal. Ya, itulah salah satu cikal-bakal mengapa film porno disebut film biru.

Alasan kedua
Dulunya, ketika film porno diputar di bioskop, pihak terkait biasanya akan memajang poster film tersebut dengan latar belakang warna biru. Hal itu dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat dengan cara yang halus.

Alasan ketiga
Sebelum industri porno menjamur di berbagai penjuru dunia, film porno harus diproduksi dengan anggaran yang sangat rendah. Karena itu, para sutradara terpaksa menggunakan cara yang murah, yakni dengan mengonversi gulungan hitam dan putih menjadi satu warna. Para pelaku film saat itu akhirnya sepakat menggunakan warna biru pada cetak film. Itu juga jadi salah satu alasan kenapa film porno disebut film biru.

Alasan keempat
Pemutaran film biru di bioskop-bioskop zaman dulu biasa dilakukan larut malam. Ruang untuk menonton pun bisa dibilang kotor. Penonton pada masa itu bahkan menciptakan nama film biru untuk merujuk pada film murah.

Alasan kelima
Sekitar 50 atau 60 tahun yang lalu, banyak negara yang menganut “Hukum Biru”. Hukum tersebut menjelaskan bahwa sebagian besar bisnis tak diizinkan beroperasi pada hari Minggu. Nah, karena bioskop-bioskop pada masa itu tak memutar film dewasa pada hari libur, jadilah film porno disebut sebagai film biru. (*)

BERITA REKOMENDASI