Kopi Parti Angkat Fragmen Sosial Penting di Yogyakarta

Editor: KRjogja/Gus

DUA videomaker muda berbakat asal Yogyakarta: Alip Herlambang dan Sandro, yang menamakan diri Kopi Parti tampaknya tidak mau abai terhadap fragmen sosial kecil yang terpinggirkan di Yogyakarta. Ketidakabaian itu ditunjukkan lewat dua karya terbaru Kopi Parti yang akan segera dirilis dalam waktu dekat.

Karya pertama adalah kolaborasi dengan Empat rapper muda asal Kupang: Flobamorata Project yang tengah berkarya di Yogya. Kolaborasi itu ditunjukkan dengan sebuah video musik berkelas berjudul "Stakes on High". Bersama Flobamorata, Kopi Parti mengeksplorasi tempat-tempat di Yogyakarta lalu bekerjasama dengan warga sekitar membuat karya video itu.

"Kami bikin video klip di jalan-jalan kampung Kota Gede dan GOR Amongrogo. Pas di perkampungan itu asyik sekali syutingnya. Flobamorata Project diterima sama warga Kota Gede dan bahkan kami dibantuin sama warga syutingnya. Mereka juga sempat foto-foto sama warga. Streotipe bahwa orang Indonesia Timur hanya bisa bikin rusuh itu melihat proses kemarin tidaklah benar. Mereka juga bisa berkarya di Yogyakarta, membantu pariwisata Yogya, bahkan sampai diterima warga dengan baik," tegas Alip.

Mencoba menghapus streotipe negatif terhadap para mahasiswa Indonesia Timur memang jadi salah satu niat Kopi Parti ketika langsung menyetujui menggarap video klip Flobamorata Project. Videomaker yang sudah membuat klip untuk D-Pria (Jakarta), Plato Ginting, dan terlibat dalam pembuatan klip untuk Solois Viena Fridiana ini ingin meyakinkan bahwa tudingan itu harus segera dimusnahkan.

"Teman-teman di Kota Gede membuktikan seperti itu. Begitu lah seharunya Yogya. Teman-teman Flobamorata contohnya, mereka bisa berkarya dan mengangkat Yogyakarta juga. Jadi kami kira streotipe itu sudah enggak tepat. Teman-teman Indonesia timur juga bisa memberikan sesuatu yang positif untuk Yogyakarta. " sambung Sandro.

Karya kedua yang juga menangkap fragmen sosial di Yogyakarta adalah film pendek berjudul "Masih Agrari". Film berdurasi 15 menit ini mengisahkan kondisi sosial para petani di Yogyakarta. Didahului riset yang tak main-main, Alip dan Sandro menemukan bahwa banyak anak petani di Yogyakarta yang tak mau menggarap sawah dan ingin menjadi anak perkotaan. Di tengah itu mereka juga menemukan banyak orang perkotaan yang meninggalkan pekerjaannya lalu menjadi petani.

"Ini soal regenerasi pertanian di Yogyakarta. Kami berpikir membuat film ini setelah ada teman kami yang kerja di audiovisual yang akhirnya memutuskan bertani. Di lain sisi anak-anak petani ini malah enggak mau jadi petani. Selain itu kami juga mengangkat faktor-faktor yang membuat petani tidak sejahtera dan malah menjual lahannya untuk yang lain. Semoga saja bisa rilis dalam waktu dekat. Kami hanya melakukan apa yang menurut kami benar dan bermanfaat bagi banyak orang, " kata Alip. (Des)

BERITA REKOMENDASI