Lebih Modern dan Stylis, Film Robin Hood Tampil Kekinian

ROBIN HOOD, cerita rakyat asal Inggris tak asing lagi bagi moviegoers. Sudah banyak film yang menyajikan aksi Robin dalam bentuk layar lebar. Sutradara Otto Bathurst menggandeng Leonardo DiCaprio sebagai produser untuk menawarkan reboot Robin Hood yang lebih modern dalam Robin Hood (2018).

ROBIN of Loxley (Taron Egerton) adalah seorang bangsawan muda di Nottingham. Dia direkrut Sheriff of Nottingham (Ben Mendelsohn) untuk menjadi bagian dari pasukan Perang Salib. Namun, ketika kembali, Robin justru kehilangan banyak hal. Termasuk gelar kebangsawanannya karena dikira sudah gugur dalam pertempuran dan perempuan yang dicintainya, Marian (Eve Hewson).

Robin juga mendapati bahwa pemerintah Nottingham melakukan korupsi sehingga rakyatnya sengsara. Namun, semangat Robin membuatnya dijuluki The Hood oleh rakyat. Menjadi sosok yang baru, dia bersama Little John (Jamie Foxx) berusaha mengungkap konspirasi di antara pemerintahan Nottingham dan menggunakan prinsip khas dalam kisah Robin Hood: mencuri dari yang kaya untuk diberikan kepada yang miskin.

Sebetulnya tak ada yang hal yang benar-benar baru dari reboot Robin Hood ini. Namun, cukup jelas bahwa sosok legendaris itu ditampilkan dalam versi yang modern. Dari caranya beraksi, memainkan anak panah, hingga bertarung. Plus, Robin di sini jauh lebih muda jika dibandingkan dalam film Robin Hood (2010).

Egerton, bintang yang namanya kian melejit berkat Kingsman, menampilkan sosok Robin yang lebih fresh, atletis, dan charming. Dia lebih banyak mengenakan jaket kulit dan hoodie yang terasa lebih masa kini daripada pakaian ala Abad Pertengahan.

Sayangnya, kritikus kurang terkesan. Hal itu malah dirasa mengganggu karena dianggap tak sesuai dengan karakter Robin Hood yang asli. "Dalam Hood terbaru karya Otto Bathurst, Nottingham terlihat seperti benteng Romawi tempat semua orang berbelanja di Zara," tulis kolumnis NY Post Johnny Oleksinski.

Rafer Guzmán, kolumnis Newsday, setuju. Dia menganggap konsep Robin Hood yang terlalu stylish tidak pas. "Ini adalah kombinasi aneh dari busur dan anak panah serta Abercrombie & Fitch (peritel Amerika yang berfokus pada pakaian kasual kelas atas, Red)," tulisnya.

Aksi dalam film itu pun dinilai flat dan membosankan jika dibandingkan dengan film-film bertema Robin Hood sebelumnya. Hadirnya dua aktor terbaik Oscar, Foxx dan F. Murray Abraham, pun tak menolong film tersebut. Akting mereka terasa mubazir karena skenario yang buruk.

"Reboots dan remake seharusnya mengenalkan penonton pada dongeng klasik dalam ide dan story line yang segar yang membuatnya lebih relevan. Tapi, Robin Hood bahkan tidak mencobanya," tulis Yolanda Machado, kolumnis The Wrap.(*)

BERITA REKOMENDASI