Mario Irwinsyah Hadirkan Nuansa 80-an

TAMPIL dalam film kekinian namun menceritakan masa lalu menjadi tantangan tersendiri bagi Mario Irwinsyah. Sebab, dituntut mampu memainkan peran yang mengidentikkan sosio kultur silam, namun tetap nyaman dinikmati era saat ini. 

Demikian pengalaman yang diperolehnya saat turut membintangi film '3 Srikandi'. Film tersebut berkisah keberhasilan tiga wanita Indonesia atlit olahraga panahan yang mampu menyumbangkan meadli emas dalam Olimpiade Seoul 1988. Tentunya semua setting yang digunakan dibuat mendekati dengan suasana pada tahun tersebut.

"Ada tantangan tersendiri tentunya. Jelas saat tahun 1988 kondisinya sudah jauh beda dengan saat ini baik dari sisi pakaian dan kultur masyarakatnya," ucap aktor kelahiran Jakarta, 30 Oktober 1982 ini.

Terlebih  putra artis Ida Leman ini masih terbilang kanak-kanak saat itu. Sehingga Mario harus mampu menerawang bagaimana suasana lingkungan masyarakat yang ia alami ketika itu. "Kalau dari sisi akting sebenarnya tidak ada masalah. Cuma menyesuaikan latar belakang situasinya yang harus berusaha agar pas dengan tahun 80-an itu," jelas pria yang pernah membintangi banyak film layar lebar ini.

Sementara nama Mario di jagat hiburan Indonesia sebenarnya bukan sosok asing. Karirnya sudah dimulai sejak balita dengan membintangi sejumlah film seperti 'Sebening Kaca' dan 'Di Balik Dinding Kelabu'. Menginjak remaja, Mario terlibat dalam film 'Sesaat Dalam Pelukan' bersama Sophan Sophiaan, Widyawati dan Frans Tumbuan. Mario juga sempatmemerankan film 'Badut-Badut Kota' yang diperankan Dede Yusuf dan Sarah Azhari. (R-7)

BERITA REKOMENDASI