Mira Lesmana Soroti Kekerasan Seksual di Dunia Perfilman Indonesia

YOGYAKARTA, KRJOGJA.com—Persoalan kekerasan seksual di dunia kerja tidak pernah habis dibicarakan. Di dunia perfilman, persoalan ini menjadi lebih pelik lagi, sebab ketimpangan gender dan proporsi pekerja menjadi salah satu faktor utama masalah ini tidak kunjung membaik.
 
Salah satu tokoh yang membahas sekaligus memperjuangkan keadilan di bidang kekerasan seksual adalah produser senior, Mira Lesmana. 
 
Kehadirannya di tengah acara seminar umum Empowering Female Filmmakers within The Industry, pada Jumat (22/11/2019) siang, menjadi kejutan tersendiri bagi peserta yang hadir. Pasalnya, Mira tidak dijadwalkan masuk sebagai pembicara dalam seminar tersebut.
 
Meski begitu, kemunculannya di ruang seminar LPP Yogyakarta itu, menjadi angin segar dan menuai antusiasme yang luar biasa dari peserta.
Mira ditunjuk langsung oleh Lisabona Rahman selaku moderator acara, untuk membagikan kisahnya dan mengupas persoalan kekerasan dari segi industri film.
 
Perempuan kelahiran ‘64 itu, mengawali sesinya dengan perasaan sedih ketika selalu ditanyai perihal pembagian waktu antara kerja dan mengurus rumah, oleh wartawan. 
“Ada stigma bahwa perempuan itu tempatnya di rumah,” katanya.
 
Padahal, dalam perspektifnya, semua orang berhak dan mampu melakukan kerja-kerja di luar tanpa melihat dia laki-laki atau perempuan. Lingkungan yang suportif, mulai dari keluarga, teman, kru film, dan seterusnya, akan memberikan dampak positif yang luar biasa pada produktivitas seseorang. 
 
Mira yang saat itu tampil kasual dengan blouse biru bergaris putih dan sepatu kets biru mudanya, mengungkapkan juga tanggung jawab dari eksistensi seseorang di dunia perfilman. Dimulai dari porsi bagi pekerja seni yang mulai bertambah besar, Mira menegaskan bahwa di situ perlu ada kesadaran lebih tentang banyak hal. 
 
“Di situ kita harus sangat saling menjaga, kita harus sangat saling memberikan empowerement kepada perempuan,” tutur pasangan Mathias Muchus tesebut.  Konsep saling menjaga ini dipakai untuk memastikan bahwa ini dunia kita dan kita harus berdiri tegak. 
 
Perempuan dan laki-laki punya tempat yang sama, bahkan kalau perlu, mengingatkan satu sama lain.
Sebelum mengakhiri sesinya, putri dari almarhum Jack Lesmana tersebut, kembali ditanyai oleh Lisa terkait pengajuan salah satu klausul soal kekerasan seksual di industri  perfilman.
 
Sebagai produser pertama yang memasukkan persoalan keamanan pelecehan seksual dalam kontrak kerja, Mira kemudian memberikan alasan-alasan fundamentalnya. 
“Proporsi pekerja yang semakin besar saat ini, sekaligus membuat kontrol diri pun menjadi sulit,” ungkapnya.
 
Perempuan bernama lengkap Mira Lesmanawati ini menyambung dengan mengaitkan soal ruang kepemimpinan di industri film yang saat ini didominasi laki-laki. 
“Kalau dulu kebanyakan (pemimpin itu) perempuan, dan ternyata (sekarang) saya banyak mendengar keluhan dari perempuan-perempuan tentang pelecehan seksual,” terangnya.
 
Mira menceritakan bagaimana mereka yang menjadi korban tidak berani bicara. Lingkungan yang tidak kondusif, dan cenderung menyalahkan si perempuan, memberikan tekanan mental bagi para korban. Alasan itu yang mendorong Mira mencari jalan tengah yang setidaknya bisa memberikan sedikit jaminan keamanan bagi para pekerja film.  
 
“Saya memasukannya bersamaan dengan klausul narkoba dan juga pelecehan seksual. Paling tidak nomor satu, bersuaranya tidak takut,” jelasnya.
 
Mira lantas melanjutkan, dalam klausul, baik laki-laki maupun perempuan tahu ada aturan. "Apabila terjadi pelecehan seksual, dia harus bersuara,” pungkasnya.
 
Beberapa konsekuensi yang sempat Mira bahas antara lain, siapa pun yang melakukan pelecehan seksual—apabila terbukti dan ada saksi-saksi yang kemudian memberatkan dia, berarti dia otomatis dikeluarkan dari produksi.
 
Namanya dari kredit dihilangkan, dan pelaku harus mengembalikan 100% honorariumnya selama bekerja di produksi terkait. Mira mengakhiri ceritanya dengan menegaskan bahwa siapa pun yang mengalami pelecehan ini harus berani bicara, baik laki-laki maupun perempuan. (Ika Nur Khasanah/ KR Akademi) 

BERITA REKOMENDASI