Public Lecture JAFF: Membaca ASEAN Lewat Film Pendek

SLEMAN, KRJOGJA.com – Public Lecture yang menjadi salah satu agenda 12nd Jogja-Netpac Asian Film Festival telah memasuki hari ketiga sekaligus hari terakhir pada Rabu (6/12). 

Bertempat di ruang seminar lantai 2 Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sesi kedua public lecture yang bekerjasama dengan Pusat Studi Asia Tenggara UGM ini mengangkat tema tentang ASEAN Identity in Short Film. Public lecture menghadirkan dua film maker muda, Wregas Bhanuteja (Indonesia) dan Amanda Nell Eu (Malaysia). 

Meike Lusye Karolus, sebagai moderator, mengungkapkan jika pada sesi ini pembahasan akan mengacu pada tiga hal, yaitu identitas, ASEAN dan film. Sebagai penutup dari sesi-sesi di hari sebelumnya, public lecture kali ini bertujuan untuk  menjabarkan bagaimana melihat film dari sisi akademis.

Sutradara film Prenjak, Wregas Bhanuteja sebagai pembicara pertama, berpendapat jika identitas yang ingin ditampilkan pada film-film pendek ASEAN mayoritas terbagi dalam empat hal. Pertama, film pendek yang diproduksi oleh film maker dari Asia Tenggara banyak berlatar suasana kehidupan kelas menengah kebawah. 

"Banyak kita jumpai film pendek yang seringkali mengangkat tentang kehidupan buruh pabrik, atau ketika menengok film pendek dari Thailand atau Laos, kita akan menjumpai cerita tentang para imigran," jelasnya.

Kedua, kata Wregas tema tentang mitos dan kepercayaan masih banyak dijumpai pada film pendek di Asia Tenggara, misalnya saja pada Sepatu Baru (Aditya Ahmad), Lost Wonders (Loeloe Hendra), dan Ruah (Makbul Mubarak). 

"Tema film pendek Asia Tanggara juga seringkali mengangkat cerita tentang bagaimana kekuatan yang dimiliki suatu negara, misalnya pada film On The Origin of Fear karya Bayu Prihantoro."

Wregas mengungkapkan bahwa tema kehidupan agraris tidak luput dari perhatian sineas Asia Tenggara. Banyak sekali dijumpai film pendek yang berkisah tentang tema ini, salah satunya Musim Bepergian yang disutradarai oleh Arie Surastio, yang sempat tembus dalam Pasific Meridian International Film Festival di Vladivostok, Rusia.

Bagi  Wregas, tantangan pembuat film pendek di Asia Tenggara saat ini adalah membuat film pendek dengan tema yang tidak lagi klise. Sutradara harus menghilangkan pandangan bahwa film pendek harus mengangkat tema lokal.

"Boleh-boleh saja kita mengangkat tema kebarat-baratan dengan setting tempat Asia Tanggara. Langkah ini tidak berarti menghilangkan identitas Asia Tenggara itu sendiri," ungkap Wregas. (Linda Fitria)

BERITA REKOMENDASI