Punya Nama Besar, Tapi Tak Berkecukupan

/Oh, penyanyi tua lagumu sederhana/
/Lagu dari hatinya terdengar di mana-mana/

PETIKAN lirik lagu 'Penyanyi Tua' tersebut, yang dirilis Koes Plus empat dekade lalu, sangat pas menggambarkan sosok Yon Koeswoyo. Vokalis utama band legendaris Koes Plus/Koes Bersaudara itu meninggal di usia 77 tahun, Jumat (5/1/2018).

Lahir dengan nama Koesyono Koeswoyo di Tuban pada 27 September 1940, Yon tutup usia di kediamanya di Jalan Salak Raya Pamulang Jakarta, akibat komplikasi penyakit. Menurut istrinya, Bonita Angelia, Yon punya riwayat penyakit infeksi paru-paru, jantung dan diabetes.

Rencananya jenazah dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Sabtu (6/1/2018) ini, lantaran menunggu David, anaknya yang tengah berada di Raja Ampat Papua Barat. "Akan dimakamkan besok (hari ini-Red) di Tanah Kusir, nunggu David anak kedua," kata putra sulung Yon, Gery, di rumah duka, Jumat (5/1/2018).

Yon bermusik sejak remaja, bersama abang dan adiknya membentuk band Koes Brothers pada 1958, yang berganti nama menjadi Koes Bersaudara pada 1963. Band klan Koeswoyo ini diawaki Tonny (lead guitar), Nomo (drum), Yon (vokal utama, rhythm guitar) dan Yok (bass, vokal). Pada 1968, Nomo keluar untuk berbisnis dan posisinya digantikan Murry, kenalan Yon, sehingga nama grup berubah menjadi Koes Plus.

Di era inilah popularitas Koes Plus tak terbendung sebagai pionir musik pop-rock Indonesia. Koes Plus merajai musik Indonesia pada 1970-an, dengan ratusan hits yang memuncaki tangga lagu nasional.  

Fenomena itu menjadikan Koes Plus sebagai 'kiblat' bagi band-band segenerasinya seperti Panbers, D'Lloyd, dan Mercy's. Tak heran, majalah Rolling Stones Indonesia pada 2015 menempatkan Koes Plus di puncak daftar 25 artis terbesar Indonesia sepanjang masa. Hingga awal 2000-an, Koes Plus dan Koes Bersaudara tercatat telah menelurkan 953 lagu dalam 89 album.

Di antara para saudaranya, Yon yang paling konsisten dan setia bermusik sejak era Koes Brothers bersama Tonny yang menjadi motor grup. Setelah Tonny meninggal pada 1987 dan Yok mundur karena alasan kesehatan pada 1996, Yon menjadi satu-satunya anggota dinasti Koeswoyo yang menegakkan panji Koes Plus.  

"Inilah orang musik yang sesungguhnya!" tulis pengamat musik (alm) Denny Sakrie di blognya, tentang Yon yang saat itu berulang tahun ke-70. Denny mengungkapkan kekaguman atas semangat hidup Yon dalam bermusik, meskipun kisah pilu membayanginya.

Ya, nasib para personel Koes Plus memang tragis. Di saat ratusan lagu mereka tetap populer dan dipasarkan hingga kini, para legenda itu tidak hidup sejahtera. Mereka tidak menikmati royalti dan fee dari penjualan album, karena di era itu album-album Koes Plus dibeli oleh perusahaan rekaman dengan sistem flat (beli-putus).

"Koes Plus hanya besar namanya tetapi tidak punya apa-apa," ujar Yon suatu ketika. Kesulitan ekonomi itu pula yang memaksa Nomo keluar dari band dan memilih berbisnis. Yon dan keluarganya pun hidup pas-pasan.

"Untuk membayar rumah sakit bersalin sebesar Rp 1,5 juta aku harus meminjam uang," tulis Yon dalam buku memoar 'Panggung Kehidupan Yon Koeswoyo', tentang kelahiran salah satu anaknya di era 1990-an.

Miris, namun Yon tetap tegar dan terus bermusik. Terakhir, Yon manggung dalam konser 'Andaikan Koes Plus Datang Kembali' pada 9 Desember 2016 di Jakarta. "Saya kalau nggak nyanyi malah lemas. Saya tukang nyanyi. Kalau saya nyanyi senang rasanya," ujar Yon kepada wartawan sebelum tampil. Hanya deraan penyakit yang menghentikan kiprah sang legenda. (Bro/Ati)

BERITA REKOMENDASI