Sebarkan Semangat Nasionalisme Lewat ‘3 Srikandi’

Editor: KRjogja/Gus

TERNYATA bukan cabang olahraga bulutangkis yang menyumbangkan medali emas pertama bagi Indonesia di ajang pesta olahraga dunia Olimpiade. Setelah 36 tahun keikutsertaan Indonesia di olimpiade, akhirnya emas pertama berhasil diboyong ke tanah air lewat cabang olahraga panahan. Ketika itu, pada Olimpiade 1988 di Seoul Korea Selatan, tiga srikandi panahan Indonesia, Lilies, Nurfitriyana dan Kusuma sukses mengumandangkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya di ajang internasional tersebut.

Kegigihan, semangat cinta tanah air diiringi sikap patriotisme itulah yang ingin kembali dimunculkan dalam balutan film drama olahraga berjudul '3 Srikandi' karya Iman Brotoseno. Film tersebut sudah mulai tayang di seluruh bioskop di Indonesia sejak 4 Agustus 2016 lalu. "Ide pertama muncul setelah tahu ternyata emas pertama Indonesia di olimpiade didapat lewat panahan oleh tiga srikandi yang berasal dari jakarta, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Penting untuk mengingatkan kembali momentum ini sebagai penyemangat masyarakat, khususnya atlit Indonesia di ajang olimpiade," tutur Iman Brotoseno dijumpai sela nonton bareng '3 Srikandi' di CGV Hartono Mall Yogyakarta, Rabu (10/8) malam.

Rangkaian sejarah tersebut tidak lepas dari sosok Donald Pandiangan yang diperankan Reza Rahadian dan dikenal sebagai Robin Hood Indonesia. Donald merupakan atlit panah kebanggaan Indonesia. Ia begitu bersemangat menyambut Olimpiade Moscow pada 1980. Namun sayang, Indonesia memboikot ajang tersebut karena kebijakan politik bangsa ketika itu. Kekecewaan Donald inilah yang kemudian terbakar pada 1988 saat anak didiknya, Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari), Lilies (Chelsea Islan) dan Kusuma (Tara Basro) sukses merebut emas bagi Indonesia. "Setelah proses 20 bulan, akhirnya proses rekontruksi sejarah film ini selesai. Cukup sulit karena harus merekonstruksi tahun 1988 dalam sebuah film," kata Iman.

Terpisah dijumpai, aktor kenamaan Donny Damara yang berperan sebagai Pak Udi masih bisa merasakan bagaimana situasi politik tahun 1980 saat Indonesia memboikot Olimpiade Moscow Rusia. Karena itu ia langsung tertarik ketika disodorkan peran bergabung dalam produksi MVP Pictures ini. "Saya salah satu generasi yang ikut merasakan. Momentum itu masih terbayang," katanya.

Sementara artis pendukung lainnya, Mario Irwinsyah yang berperan sebagai suami Lilies dalam film tersebut menuturkan film ini merupakan realita sejarah yang tidak bisa dipandang sepele. Karena itu tiap detilnya harus diperhatikan. "Lewat film ini bisa menularkan aura positif. Mencapai mimpi tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa dicapai," ungkapnya. Hal sama dikatakan Detri Warmanto. Dalam film ini ia harus berlatih panahan dengan sungguh-sungguh. Ia merasakan, bagaimana atlit pada waktu itu dengan begitu semangat berlatih. Sehingga tidak mengherankan banyak prestasi yang ditorehkan atlit Indonesia pada masa itu. (m-5)

 

BERITA REKOMENDASI