Sekala Niskala, Semesta Unik tentang Kisah Kehilangan

8 Maret 2018, bertepatan dengan Hari Perempuan, film Sekala Niskala atau atau The Seen and Unseen resmi diputar di seluruh bioskop di tanah air. Film ini baru saja menorehkan dua sejarah sekaligus yakni sebagai film panjang pertama sekaligus sutradara perempuan pertama dari Indonesia yang memenangi penghargaan di salah satu festival film paling bergengsi dunia, Berlin Film Festival 2018 Generation K Plus International Jury Prize

Sebelumnya deretan penghargaan lain juga disematkan pada Sekala Niskala, seperti Tokyo Filmex 2018, Asia Pasific Screen Award 2018, serta Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Hanoman Prize 2017. Film ini diramu oleh sutradara perempuan berbakat Kamila Andini, dan diproduseri oleh Gita Fara serta Ifa Isfansyah. 

Selain itu, yang juga menarik, bahwa sebagian besar kru yang terlibat dalam proses pembuatan film ini adalah perempuan, termasuk juga sang sinematografer, Anggi “Cumit” Frisca. Sedangkan para pemain adalah  Thaly Kasih, Gus sena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina dan Happy Salma.

Barangkali berbicara soal perempuan, berdasarkan hasil pengamatan saya, film-film Kamila Andini sebelumnya, juga banyak mengangkat isu-isu soal perempuan ataupun kuat menghadirkan sosok perempuan dalam garapannya. Sebut saja debut film feature pertamanya, Mirror Never Lies (Laut Bercermin) yang juga meraih sederetan penghargaan diantaranya Earth Grand Prix Awards dari Tokyo International Film Festival 2011 untuk film bertemakan lingkungan terbaik, dan Fipresci Award (Penghargaan tertinggi dari asosiasi Kritikus Film Internasional) di Hongkong International Film Festival 2012, serta penghargaan yang sama yang diterima Sekala Niskala, film panjang ke duanya enam tahun kemudian, yakni Asia Pasific Screen Awards 2012

Dalam film Mirror Never Lies yang mengangkat kehidupan suku  Bajo di Wakatobi, pemeran utama adalah seorang gadis kecil bernama Pakis yang diperankan luar biasa oleh Gita Novalista. Kemudian beralih pada film pendek Sendiri Diana Sendiri (Following Diana), tokoh utama Diana hadir begitu kuat dan diakui oleh Dini, sapaan akrab Kamila Andini diperankan dengan akting yang detail oleh Raihanuun. Berlanjut pada film pendek keduanya, Memoria yang bercerita tentang luka seorang penyintas perempuan yang dihadirkan dalam karakter ibu di Kota Ermera yang pernah menjadi korban kekerasan seksual pada masa perang kemerdekaan Timor Leste dari Indonesia. Pun dalam film Sekala Niskala, tokoh utama adalah gadis bernama Tantri yang memiliki saudara kembar laki-laki bernama Tantra, yang terbaring sakit. 

DUNIA SEKALA NISKALA

Mengambil latar di Bali yang jauh dari turistik. Sekala Niskala bercerita tentang dua saudara kembar buncing Tantra dan Tantri, dimana Tantri harus berhadapan dengan kenyataan bahwa waktunya tidak lagi banyak bersama Tantra, karena adik kembarnya mengalami kelumpuhan syaraf total secara bertahap. Drama yang dituturkan oleh Kamila Andini melalui Sekala Niskala sangat sehari-hari, namun dalam grafik perasaan yang dalam dan sangat kuat. 

Bagi saya, penting untuk dicatat, bahwa Dini sapaan akrab sang sutradara, telah menemukan apa yang disebut dengan formula atau signature nya sebagai sutradara, dan semakin dikukuhkan dalam film Sekala Niskala. Sebetulnya kalau kita lihat kembali, mulai dari cara bertutur, juga tema-tema film yang berfokus pada perempuan, Kamila Andini memang memiliki ciri khas tersendiri dibanding sutradara yang lain. 

Menonton Sekala Niskala bagi saya sendiri seperti mengajak kembali untuk berkontemplasi ke ruang-ruang masa kecil. Dimana sebagian besar anak-anak barangkali pernah mengalami fenomena melihat “yang tidak terlihat”, atau bisa jadi memiliki imaginary friend, teman khayalan. Juga membawa ingatan-ingatan tentang bermain-main serta berimajinasi kreatif saat masih anak-anak dengan bahan-bahan alam.  

Selain itu visual yang hadir terasa begitu puitis, dan bagi saya pilihan gambar-gambar yang gelap, sangat tepat mengungkapkan dunia antara Sekala Niskala, menangkap kemurungan dan kesepian sang tokoh utama Tantri yang berusaha menolak kenyataan bahwa adik kembarnya Tantra tidak akan berumur panjang lagi.

Teknik kamera yang sederhana, dalam artian tidak banyak bermain pergerakan kamera, menyuguhkan banyak gambar-gambar yang diam, tempo yang lambat, namun justru menguatkan karakter dan menjadikan emosi para pemain dapat utuh terekam. Wajar saja, jika Anggi “Cumit” Frisca selaku sinematografer diganjar penghargaan sebagai Best Cinematographer oleh Malaysia Golden Global Awards 2018

Komposisi pemain dalam Sekala Niskala juga sangat menarik untuk saya. Permainan luar biasa disuguhkan oleh pemeran Tantri yakni Thaly Kasih, dimana kita bisa melihat dan merasakan gradasi emosi Tantri. 

Kita akan menyadari betul bahwa tubuh-tubuh tradisi yang begitu kuat pada pemeran Tantra dan Tantri adalah tiga kesatuan dasar aktor singing, acting, dancing yang semuanya muncul dalam Sekala Niskala. Juga akting yang sangat sehari-hari dan alami dari setiap pemainnya, seperti adegan sedih di dapur, menunggu di rumah sakit, naik mobil bak terbuka, semuanya mengalir dengan sangat indah.

Meskipun film ini minim dialog, menurut saya Dini sang sutradara justru mampu menghadirkan kekuatan suara (non dialog) lain melalui alam ataupun benda sehari-hari seperti kincir angin, kipas angin di rumah sakit, suara kepak tangan anak-anak hantu, yang rasa-rasanya jarang saya temui di sinema Indonesia kebanyakan.

Setiap adegan imajinasi Tantri bermain dengan Tantra dan juga hantu-hantu anak kecil begitu terngiang-ngiang dalam ingatan saya. Betul kalau dikatakan film ini juga bernuansa magis, karena adegan-adegan tersebut masih menghantui saya hingga beberapa hari setelah saya menontonnya. 

Barangkali jika saya mendengar film ini akan diadaptasi ke dalam pertunjukan, saya akan sangat tidak sabar untuk menantikannya. Oh ya, sebelumnya film Sekala Niskala juga sudah menjadi sebuah bentuk instalasi seni karya Kamila Andini dan Ifa Isfansyah yang dipamerkan di Art Jog|10 pada tahun 2017 lalu.

Dalam Sekala Niskala, semuanya hadir dan mengalir menjelma menjadi sebuah pengalaman kultural yang unik. Sebuah kesederhanaan yang kompleks, natural, seperti alam semesta. Dan barangkali sejalan dengan pendapat yang saya kutip dari para Juri Berlinale dalam press release nya bahwa Sekala Niskala menyampaikan perjalanan yang penuh perasaan melalui duka, kemarahan dan penerimaan. 

Film ini menyentuh kita semua melalui alam semesta yang unik. Yuk, nonton Sekala Niskala, salah satu film terbaik Indonesia mumpung masih diputar di bioskop. Untuk Jogja bisa cek jadwal di XXI Jogja City Mall. Mari dukung film Indonesia!

 

Ditulis oleh :
Annisa Hertami
Lulusan Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta, seorang pelaku dan penikmat seni 

BERITA REKOMENDASI