Seri Kodoba Atraksi Menarik di Halmahera Utara

HALMAHERA UTARA, KRJOGJA.com – Banyak keunikan ditemukan pada tarian tradisional yang berasal dari Halmahera Utara. Salah satunya atraksi Seri Kodoba yang disajikan saat Festival Wonderful Halmahera Utara, Senin (26/11) lalu. Atraksi Seri Kodoba ini merupakan tradisi upacara adat yang masih mereka pegang teguh dan laksanakan di Halmahera Utara tepatnya di Desa Limau. 

Seri Kodoba disajikan dalam beberapa tarian, seperti tari Tokuwela, tari Solumbe dan atraksi Bambu Gila. Mungkin orang sudah banyak mengenal dengan atraksi Bambu Gila, tetapi orang belum banyak tahu dengan tari Tokuwela dan tari Solumbe. Tarian ini mempunyai ciri khas yang unik. Selain itu, terkandung juga nilai dan makna sosial budaya yang begitu kental. 

Sangat sayang jika budaya tidak di lestarikan oleh pemerintah dan masyarakat. Sebagai warisan budaya, tarian ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi turis asing untuk berdatangan ke daerah yang beribukota Tobelo ini.

Budayawan Halmahera Utara dan Ketua Sanggar Budaya Dabiloha Jesaya Rahaguna menuturkan, pada pembukaan Festival Wonderful ini, dirinya mengangkat tema 'Menjaga Masa Lalu'. Jadi dengan Festival Wonderful ini,  diharapkan budaya itu bisa menjadi destinasi wisata. 

"Seperti Pak Bupati sampaikan bahwa disini banyak destinasi wisata tetapi budaya tidak dikemas dengan bagus, sehingga budaya itu menjadi kontemporer, jadi wisatawan mancanegara datang hanya sekedar datang saja  tetapi tidak punya kesan bahwa disini ada sebuah destinasi yang benar benar mengangkat budaya lokal," kata Jesaya.

Jesaya menambahkan dengan tema menjaga masa lalu, dirinya memilih 3 atraksi yang diangkat dari ritual budaya lokal, yang mungkin sudah mulai hampir punah. Seperti Tari Tokuwela, tari ini sebenarnya baru pertama kali dipentaskan di Galela, yang kira-kira sudah 50 sampai 60 tahun lalu tidak pernah ditampilkan lagi. Hal ini lantaran tarian tersebut dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan kekinian, agama dan lain lain.

"Tarian Tokuwela sebenarnya itu budaya lokalnya orang Galela, dan kebetulan kampung kami berada di Galela Utara, Desa Limau. Di kampung kami setiap tahun  selalu buat ritual ini. Ada rumah penunggu kami yang kami sebut Rumah Elang. Rumah ini  dari generasi ke generasi di Kampung Limau,  harus dilindungi karena rumah ini bisa menjadi tempat pemersatu. Dari anak-anak hingga orang dewasa selalu berpegangan tangan, untuk menunjukan bahwa mereka bisa bekerja sama," tutur Jesaya.

Menpar Arief Yahya mengatakan tarian daerah menjadi aset wisata yang memperkaya industri pariwisata di tanah air. Setiap daerah memiliki aset ini dan menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. "Aset itu bukan sekadar tempat wisata, tetapi seni, budaya dan kreativitas masyarakat lokal juga merupakan aset yang bisa "dijual". Jadi mari kita lestarikan," kata Menpar Arief Yahya. (*)

BERITA REKOMENDASI