Tarling is Darling dan Lika-liku Musik Dangdut Indramayu

Editor: Ivan Aditya

SATU dari 114 film yang diputar dalam gelaran 12nd JAFF Jogja-Netpac Asian Film Festival adalah Tarling is Darling yang disutradarai oleh Ismail Fahmi Lubish. Bertempat di gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta,  Kamis (07/12/2017) merupakan penayangan kedua Tarling is Darling di JAFF, sekaligus di Indonesia.

Musik dangdut tarling pantura yang seringkali berkesan negatif (karena dianggap erotis dengan berpakaian mini) menjadi suara pembuka film ini. Bersamaan dengan itu, sutradara menampilkan teks yang bertolak belakang, yakni dengan menyampaikan fakta bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Di bagian-bagian selanjutnya, telinga penonton akan sering mendengar backsound lagu dangdut sebagai tema besar dalam film ini.

“Di Indramayu terdapat lebih dari seribu penyanyi dangdut, 500 studio rekaman, dan tarling (gitar keliling) menjadi sesuatu yang erat dengan masyarakat. Tapi disamping itu, pesantren disana juga banyak. Jadi jangan heran jika bayak sekali visual saling bertabrakan di sepanjang film,” papar Ismail Fahmi Lubish yang hadir dalam agenda siang ini.

Secara garis besar, Tarling is Darling bercerita mengenai lika-liku musik dangdut tarling di Indramayu, Jawa Barat lewat sosok Kang Jaham yang merupakan seniman penulis lagu dangdut. Dimulai dengan proses pencarian penyanyi lalu mengorbitkannya, istri Kang Jaham yang cemburu dengan wanita-wanita penyanyi dangdut, hingga tantangan bagi Kang Jaham saat diminta menulisakan lagu dangdut bernuansa Islami.

“Ini film dokumenter. Ceritanya mengalir saja, karena eksekusi utama ada di proses editing. Saya empat tahun tinggal dengan Kang Jaham untuk buat film ini, tanpa asisten, tanpa kru. Saya benar-benar berdua dengan Kang Jaham,” cerita Ismail Lubish yang juga mengaku menyukai musik tarling.

Bersama sang sutradara, hadir pula Kang Jaham yang mengundang tepuk tangan para penonton. Pria berambut sedikit gondrong ini menyapa penonton dengan senyum khas seperti yang ditampilkan dalam film. Proses pendekatan dia dan sutradara dinilai cukup mudah, walau sempat tidak mengerti dengan arah cerita film ini.

“Tarling di sana seolah jalan di tempat. Ketika ada orang baru yang datang (Ismail Fahmi Lubish) saya seolah melihat ada harapan untuk perkembangan musik tarling menuju tingkatan yang lebih luas,” ungkap Kang Jaham.

Selain menampilkan hubungan masyarakat Indramayu dengan musik tarling, Ismail juga ingin menyampaikan pesan tentang Islam Indonesia yang damai lewat dakwah dengan metode musik. “Kyai di sana dianggap lebih seniman daripada senimannya. Melalui film ini saya juga ingin menunjukkan jika Islam nusantara tidak bisa disamakan dengan mereka yang mengaku Islam tapi melakukan pengeboman,” tuturnya.

Film berdurasi 109 menit ini ditutup dengan scene seorang petani laki-laki yang tengah mengendarai traktor di area sawahnya dengan wajah sumringah. Harapannya dari sang sutradara, penayangan Tarling is Darling dalam JAFF dapat dijadikan salah satu tolak ukur seperti apa penerimaan penonton Indonesia terhadap film ini. (Linda Fitria)

BERITA REKOMENDASI