Tengkorak, Film ‘Science Fiction’ Tempuh Shooting 2,5 Tahun Akhirnya Rilis Trailer

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRjogja.com) – Masyarakat Indonesia dan dunia digemparkan dengan sebuah temuan fosil tengkorak sepanjang 1850 meter berumur 170 ribu tahun di pulau Jawa tepat usai terjadi guncangan gempa 5,7 Skala Richter. Para ahli, pemimpin negara bahkan pemuka agama bersilang pendapat apakah temuan tersebut akan dibeberkan atau tetap disembunyikan di mana saat itu muncul seorang gadis bernama Ani yang berusaha membuka fakta tersebut pada dunia.

Problematika berkembang, tarik ulur kepentingan antara beberapa pihak terjadi hingga akhirnya semakin banyak yang terlibat dalam permasalahan ini. Mereka sibuk mencari pembenaran yang ternyata tak bisa dijelaskan dengan dua sisi dominan kehidupan yakni agama dan ilmu pengetahuan.

Inilah sepenggal cerita yang ditampilkan dalam trailer film bergenre science fiction berjudul Tengkorak karya Akasacara Film Sekolah Vokasi UGM. Film garapan sutradara Yusron Fuadi yang telah diproduksi sejak 2,5 tahun lalu dan menempuh tak kurang 111 hari masa shooting di berbagai lokasi di Pulau Jawa akhirnya mencapai titik akhir dan diharapkan bisa selesai di akhir tahun 2016 ini.

Kepada wartawan dalam acara pemutaran trailer dan diskusi di Legend Cafe Sabtu (10/12/2016) Yusron Fuadi mengatakan film Tengkorak ini dibuat untuk menampilkan sisi lain dari perfilman Indonesia yang selama ini identik dengan film-film mudah dengan cerita yang enteng ditebak. Menurut dia, ada ruang yang menjadi jarak di mana belum ada film bergenre science fiction yang diproduksi film maker Indonesia.

"Kami membuat film science fiction yang memang selama ini belum dibuat di Indonesia, kami ingin melihat bagaimana respon masyarakat terutama ketika ada sesuatu hal baru. Kami putuskan untuk membuat film berjudul Tengkorak yang ceritanya tidak biasa dan mungkin tak pernah dipikirkan orang," ungkap pria yang juga dosen Sekolah Vokasi UGM ini.

Dari sisi teknis sinematografi, Yusron mencoba menyuguhkan setting lokasi fantastis dengan sentuhan efek visual 3 dimensi. "Kami sebut narrow view on a grand scale, ada juga dukungan blue screen untuk mendukung adegan-adegan tertentu," imbuhnya.

Sementara Wikan Sakarinto produser yang juga Dekan Sekolah Vokasi UGM menambahkan, pembuatan film ini murni dilakukan oleh anak-anak didiknya mulai dari 0 hingga berproses jauh lebih baik dan akhirnya mendekati rampung. Menurut dia, waktu panjang pengerjaan yang mencapai 2,5 tahun dikarenakan adanya kesulitan pendanaan malah mampu menjadi proses pendewasaan bagi seluruh elemen yang terlibat dalam film Tengkorak.

"Awalnya memang karena faktor E (ekonomi) kami kesulitan, namun satu tahun terakhir karena kami juga punya faktor N (nekat) maka kemudian ada sponsor yang tak mau disebutkan namanya ikut membantu hingga akhirnya hampir selesai. Film ini benar-benar mimpi yang akan segera terwujud, dan semoga bisa membawa hal luar biasa bagi masyarakat," ungkapnya.

Wikan berharap, ketika rampung nanti film Tengkorak bisa masuk ke bioskop nusantara dan mengambil hati pecinta film di tanah air. "Semoga masyarakat mau menonton nanti kalau sudah masuk ke bioskop, karena film Indonesia yang satu ini lain daripada yang lain," imbuhnya tersenyum.

Beberapa nama baru di dunia film ambil bagian dalam produksi Tengkorak ini diantaranya Eka Nusa Pertiwi sebagai Ani, Yusron Fuadi sebagai Yos dan Guh S Mana sebagai Lt Jaka. Yang juga mengagumkan, beberapa dosen dan profesor UGM akan berperan menjadi tokoh penting dalam film ini. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI