Tiga News Anchor Berbagi Pengalaman Saat Liputan

Editor: Ivan Aditya

JEMMY Darusman, Sheila Purnama dan Pratiwi Kusuma berbagi pengalaman selama menjadi seorang jurnalis. Dari pengalaman yang menyenangkan, menegangkan hingga serem diceritakan mereka dalam wawancara virtual Semangat Senin Indosiar beberapa hari lalu.

Pratiwi Kusuma misalnya. Sebagai jurnalis ia dituntut untuk mampu menjalankan tugas dimanapun berada dan berhadapan dengan narasumber dari berbagai kalangan. Pengalaman menarik ia ceritakan saat melakukan peliputan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ia mengatakan saat itu merupakan tugas pertamanya di KPK. Pratiwi Kusuma mengaku cukup kesulitan untuk menemui narasumber di tempat tersebut, namun beruntung ia banyak dibantu oleh rekan-rekan wartawan yang telah lama melakukan peliputan di KPK.

“Beruntung banyak senior di sana jadi ada yang membantu dan mereka menerima dengan terbuka. Setelah itu lama-lama bisa menyesuaikan diri saat liputan di sana, termasuk saat live,” ungkapnya.

Persatuan para wartawan menurutnya sangat kuat. Semangat tolong menolong di lapangan sangat dapat dirasakan, dengan demikian tugas masing-masing wartawan memperoleh berita dapat terselesaikan dengan baik.

Lain lagi dengan Jemmy Darusman. Liputan paling berkesan saat ia melaksanakan tugas untuk menyampaikan berita ketika situasi banjir di kawasan ibu kota. Mau tidak mau ia juga harus berjibaku dengagn banjir agar dapat memperoleh berita bagi pemirsa.

“Saat itu situasi banjir dengan ketinggian air setinggi dada. Karena tugas kita sebagai jurnalis maka harus terjun langsung ke lokasi guna mendapatkan berita tersebut. Jadi turut merasakan sendiri banjir yang dirasakan warga,” ujarnya.

Ketika itu warga nampak tetap beraktivitas walau di tengah banjir. Beberapa ada yang menuju pengungsian mencari tempat aman, bahkan ada warga yang tetap memasak bagi keluarganya meski air setinggi 1,5 meter menggenangi rumahnya.

Pengalaman seram pernah dirasakan Sheila Purnama. Ia pernah mendapat tugas untuk meliput salah satu tempat yang angker. Sebenarnya ia cukup takut, namun karena tuntutan profesi maka rasa itu tak dipikirkannya lagi.

Ketika itu peliputan dilakukan secara menyeluruh. Penelusuran ia lakukan mulai dari lokasi sekitar, tempat utama hingga bertemu dan mewawancarai juru kunci.

“Sempat merinding bulu kuduknya. Saat itu memang topik yang hangat diperbincangkan dan liputannya secara komprehensif, semuanya ditelusuri, kata Sheila Purnama.

Karena berada di tempat yang dianggap mistis, berbagai aturan pun harus dijalankan Sheila Purnama. Ia harus cuci muka air tujuh pancuran dan lainnya. Menurut si juru kunci hal itu harus dilakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. (Van)

BERITA REKOMENDASI