Banyak Unsur Jawa, Jatiraga Rilis Album

JATIRAGA akhirnya merilis album perdana mereka beberapa waktu lalu. Bertajuk sama dengan nama band, ada lima lagu dalam album yang digarap selama satu tahun lebih di Padepokan Bagong Kussudiardja Yogyakarta itu. Ragipta Utama, gitaris Jatiraga, mengisahkan bagaimana proses pembuatan album yang sudah ditunggu banyak orang ini sekaligus soal intisari tiap lagu dalam album yang rilisan fisiknya sudah bisa dibeli langsung melalui media sosial mereka ini.

Baca Juga: Terakhir Pentas Tahun 1939, Abdi Dalem Musikan Keraton Yogya Dihidupkan Kembali

Tema Jatiraga, papar Gipta, berintisari kesadaran, kesejatian diri, dan citra Tuhan yang bersemayam dalam tubuh masing-masing manusia. Ia mempersempit analogi itu serupa doa baik yang melahirkan keberanian dan pembebasan. Tidak heran jika lagu-lagu di dalamnya adalah bentuk sekaligus mewakili doa baik dan keberanian orang-orang di sekitar.

"Dalam satu album ini masih memiliki unsur Jawa dari nada dan balutan serta pembubuhan tembang (wedatama). Semua energi masih dari Jawa. Memang jika diruntut (repertoar) semua berkaitan tapi kami buatnya bertahap, dari 'Caploan', 'Jatiraga','Kutut Manggung', 'Lampor Kendeng', dan 'Kidung Lembayung'," papar Gipta.

'Kutut Manggung' seperti jiwa-jiwa yang berani. Lagu ini laiknya simbol pagi yang dibuka kicauan kutut yang menggema. Sementara 'Lampor Kendeng' adalah penghormatan aksi protes orang-orang yang tertindas di Kendeng melalui budaya. 'Kidung Lembayung' keprihatinan terhadap situasi saat ini di mana intoleransi meninggi di tengah kian gagapnya demokrasi. Lagu ini juga berisi pesan seharusnya perbedaan membawa perdamaian. "Di 'Lampor Kendeng' itu aku juga ikut aksi menggunakan obor keliling gunung," sambung Gipta.

Baca Juga: Qory Sandioriva Muncul Kembali dengan Bisnis Kuliner Sehat

Tidak hanya lagu mereka yang menarik. Disain cover punya kekuatan serupa. Artwork album "Jatiraga" ini lahir dari pemaknaan atas eksistensi diri manusia yang sempat diterjemahkan Sartre sebagai mahluk yang punya kehendak bebas. Karena sifat dasarnya yang bebas, kehendak tersebut sesungguhnya tak memiliki batasan, baik secara etik maupun artistik. Kehendak bebas itu merupakan paradoks dari pertautan antara baik dan jahat, liar tak beraturan, dan selalu mencari celah dan kemungkinan untuk bisa menampakkan wujudnya.

"Oleh karena itu setiap manusia pada dasarnya juga adalah sebuah wadah penangkaran, yang membingkai dan mengontrol kehendak bebasnya masing-masing dengan tubuh, cinta dan kesadaran. Agar kemudian bisa mengambilnya menjadi semangat kebaikan," sambung Zuhdi, vokalis Jatiraga.

Jatiraga sendiri punya sematan unik atas musik yang mereka mainkan. Jazz ndugal begitu penikmat musik di Yogyakarta melabeli mereka. Karakter musik dengan aroma jazz yang kental direspon gerak dan suara Zuhdi yang mampu membakar penonton di tiap pertunjukkan. Mau panggung besar atau tak beroagar pembatas, mereka mampu membagi energi besar ke penonton. Tidak heran bila banyak yang ketagihan melihat aksi panggung band yang terbentuk dua tahun lalu itu.(Des)

BERITA REKOMENDASI