Borje Rilis Single Sakafaka

MANUSIA tak harus menjadi sosok bijak. Sesekali marahlah terhadap apa-apa yang menurutmu layak untuk menerima amarah, termasuk sahabatmu sendiri. Setelah puas pakai lagi topeng moral. Begitulah yang ingin disampaikan unit Cardio Sport Metal asal Jogja, B.O.R.J.E lewat single 'Sakafaka' yang awal Februari nanti mulai berselancar di sejumlah layanan dengar digital.

Mengajak orang untuk marah adalah pesan semata wayang Akadama, Danny Eriawan, Moamar X, Catur "Yoyok" Kurniawan, dan Paulus Neo dalam single yang dibuat dadakan di atas panggung itu. Marah bagi BORJE itu bentuk kejujuran di tengah bertebarnya ajakan bijak dalam 12 kata di media sosial. Ajakan marah itu bagi mereka tanda kemerdekan.

Berlirik bahasa Inggris 'Sakafaka' adalah racauan orang mabuk yang marah setelah melihat pasangannya tidur dengan temannya sendiri. Inspirasi itu datang dari dekat, ketika mereka nongkrong bareng di JB studio. "Kami suka kumpul-kumpul, sharing info macam-macam soal musik. Terus ada teman datang, dia meracau pakai bahasa Inggris yang ngaco, marah-marah terus. Pacarnya ditiduri teman baiknya. Dari tragedi itu 'Sakafaka' berasal," cerita Paulus Neo, kibordis Borje.

Kata 'Sakafaka' sendiri plesetan dari pisuhan bahasa Inggris 'Suck' dan 'F*ck' yang sengaja mereka gabung. "Bahasa kan soal kesepakatan dan 'Sakafaka' jadi kesepakatan kami. Kenapa pisuhan karena lagunya sendiri isinya pisuhan thok," beber Desta Rangga aka Akadama, narator B.O.R.J.E.

Mulanya Yoyok, Akadama, dan Paulus Neo iseng memindahkan amarah kawan mereka itu lewat instrumen saat nongkrong di Alldint Jogja. Merasa butuh dentuman bass kuat dan distorsi berat, maka diajaklah Danny Eriawan, bassist Kuaetnika dan Moamar (gitaris JB Blues dan Moamarx And The Black Wind) mengisi instrumen. Instrumen mentah itu tiba-tiba jadi begitu saja ketika mereka jamming di Jazz Mben Senen tanpa rencana.

"Waktu jamming Yoyok ngasih kode pakai native instrumen terus kami gas. Belum ada lirik sama sekali, Akadama cuma ngerapp asal-asalan terus tiba-tiba lari keliling Bentara Budaya, koprol, push up, terus ala-ala Betty Sularso begitu. Entah apa yang merasukinya. Terus dari sana orang-orang yang nonton nyeletuk, 'ini band metal apa unit senam'," kelakar Danny Eriawan.

Usai menemukan instrumen saat jamming, mereka mematangkannya di JB studio lalu memainkan versi jadi di gigs Blues On Friday (BOF) Jogja Blues Forum (JBF). Di jamming kedua itu Akadama misuh seperti racauan temannya yang sedang mabuk sekaligus marah saat nongkrong itu. Larik mudah diingat Akadama karena racauan yang menjadi lirik itu hanya pisuhan.

"Enggak ada orang mabuk, misuh-misuh pakai bahasa Inggris yang benar, hahaha..dari sana kami merasa cocoknya ya begitu saja. Dari dua jamming itu juga akhirnya ketemu bentuk yang pas untuk musik Borje. Ada lembut juga keras dalam instrumen lalu kami rekam di JB Studio," tambah Yoyok.

Proses rekaman memakan waktu dua hari. Track dikirim ke Watchtower Studio, mereka yakin Bable Sagala adalah sosok yang paling tepat mixing dan mastering 'Sakafaka'.Tidak hanya mixing mastering, Drummer Metallic Ass dan Risky Summerbee & The Honeythief itu juga mengisi ulang drum. Untuk departemen artwork, Borje memasrahkannya pada desainer Christian Nugroho. "Kami kaget saat dengar isian drum Bable. Penuh, padat, kejam.Mungkin dia lagi marah juga saat ngisi. Dari sana kami enggak pernah main tanpa Bable saat live. Enak banget, pas latihan langsung kawin. Sedangkan Christian Nugroho enggak usah ditanya lagi lah kualitasnya, " kisah Danny Eriawan.

Tak ada harapan muluk dari lagu ini. Borje hanya memaparkan amarah sekaligus mengajak pendengar jujur pada diri sendiri. Saat diperdengarkan ke sejumlah orang sebelum rilis, tanggapannya pun beragam. Ada yang memindai 'Sakafaka' seperti era Snot tahun 90-an sampai Linkin Park. "Sedangkan untuk kami, harapannya juga enggak muluk, yang penting masih bisa kumpul-kumpul dan berbagi apa saja. Sesederhana itu saja," tambah Moamar X.

Borje sendiri lahir 2019 di JB dan Alldint. Tiap personel punya latar belakang belakang yang berbeda. Akadama berprofesi sebagai jurnalis olahraga. Moamar X gitaris JB Blues dan Moamar X dan The Black Wind lalu Danny Eriawan bassist yang akrab dengan Jazz yang sudah melahirkan album solo berjudul 'Reminiscence'. Paulus Neo kibordis band Tricotado, Pongky And The Dangerous Band, WLA, Heroic Karaoke, dan sejumlah proyek musik lainnya. Sedangkan Catur Kurniawan salah satu musisi triphop yang melahirkan Blackstocking Band dan Portelea.(Des)

BERITA REKOMENDASI