Brokenheart Radio Club Dimeriahkan Newdays dan Sophie

ACARA "Brokenheart Radio Club" yang akan diselenggarakan pada hari Rabu, 13 November 2019 di Liquid Bar & Kitchen, bukanlah sekedar nostalgia atas kejayaan siaran radio. Bukanlah sekedar memorabilia hitsmaker lawas Yogya. Acara ini adalah sebuah pertemuan yang yang indah untuk menggegap-gempitakan kesunyian. Agar makin syahdu terpilihlah dua band yang lahir, tumbuh dan besar di Yogya: New Days dan Sophie, yang meskipun sudah agak lama tidak aktif, namun pernah punya reputasi sebagai penyambung aspirasi muda-mudi dalam problem abadi: patah hati. Acara ini gawean GCD FM dan PamitYang2an Qwerty Radio, didukung KRJogja.com.

Baca Juga: Rawat Persatuan Indonesia, Abdi Dalem Musikan Kraton Yogyakarta Bakal Unjuk Gigi

"Sekedar kilas balik, jika anda adalah generasi yang tumbuh di era sebelum internet, semestinya pernah merasakan — atau malah kecanduan — dengan dahsyatnya radio. Adalah hal umum radio menyala 24 jam di kamar-kamar anak muda, dengan menandai beberapa frekuensi saluran saja, jatuh tertidur dengan backsound suara penyiar di sela-sela lagu. Resep kehebatan radio waktu itu, sebelum digempur oleh model jualan musik “siap-saji-ambil-sendiri-via-internet” adalah music director yang bekerja meramu program yang seolah-olah bisa selalu pas dengan suasana hati pendengarnya," kata Yoppie Jenggot dedengkot PamitYang2an Qwerty Radio dalam siaran persnya.

Penyimak, lanjut Yoppie, mempunyai batasan memilih tembang dengan request melalui telefon atau bahkan kertas pilpen (pilihan pendengar, yang ditulis langsung dengan datang ke kantor atau studio radio). Bahwa lagu yang sedang diinginkan akan diputar atau tidak, sungguh membuat hati berdebar, apalagi jika lagu tersebut ditunggangi pesan khusus untuk seseorang yang tercinta, misalnya. Radio konvensional yang untuk mengaksesnya relatif lebih murah karena hanya butuh perangkat radio transistor dan tenaga listrik sangat kecil juga adalah teman paling mangkus dan sangkil di saat-saat sepi yang membunuh. Di malam-malam yang dingin dan merana sendiri.

GCD FM, sebagai salah satu stasiun radio lawas di Yogya, pernah mengalami kejayaannya melayani pendengar, sebagian pastinya pendengar patah hati pada jamannya. Seiring perubahan teknologi yang tak kenal ampun, menyesuaikan format dan caranya berkomunikasi dengan pendengarnya. Lain halnya dengan PamitYang2an Qwerty Radio, sebuah radio abal-abal yang lahir di jaman meledaknya Twitter, mengudara tanpa izin resmi via internet, yang karena kelewatan bercanda menertawai generasi sendiri yang galau, muram dan suram harapan, malah menjadi kelangenan — mungkin — banyak orang yang ingin ditemani dalam kondisi down mood.

Baca Juga: UNESCO Tetapkan Ambon sebagai Kota Musik Dunia

Sinergi dua radio yang sangat berbeda, satu adalah entitas serius, satunya adalah organisasi tanpa struktur. Satu mempunyai jalur utama FM, satunya internet junkie. Satu mempunyai program dan jadwal yang jelas, satunya siaran seperti gerilyawan yang mengejutkan seenaknya. Dipersatukan oleh keadaan ulang tahun berdirinya radio masing-masing yang sudah terlewat agak lama, namun merasa perlu merayakan dengan pertemuan langsung pada para pendengarnya. Karena radio dan punggawanya terasa sangat dibuat-buat untuk dipertemukan dengan pendengarnya, maka musisi pemilik lagu adalah jembatan yang bisa membuat pertemuan itu menjadi mesra dan syahdu. 

"Untuk itu, mari kita bersukacita bersama merayakan kemuraman, lalu pulang dengan, seharusnya, merasa sedikit lega," pungkas Yoppie.(*)

BERITA REKOMENDASI