Callkula Obsesi Karyanya Merapikan Pikiran Pendengar

Editor: KRjogja/Gus

JANGAN anggap remeh si manusia yang kelihatannya begitu sederhana. Biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan. Pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.

Demikian kata Pramoedya Ananta Toer dalam "Bumi Manusia". Pandangannya seolah menghardik mereka yang melihat manusia hanya pada tampilan luar dan laiknya batu: tak bisa berkembang mustahil berubah wujud. Berpijak dari pandangan Pram itu sepertinya, Callkula, band asal Yogyakarta yang baru saja melempar single sekaligus video lirik berjudul "Derai Tawa" hadir ke tengah pendengar musik. Alvin, Gilang, Elvan, Lucky, dan Ruly tak sekadar mencoba mengeksistensikan diri lewat lagu. Ada kelindan misi di tiap karya dan penampilan.

"Kami punya misi di sini bukan finansial, kami coba berkarya pelan-pelan agar pendengar bisa menikmatinya. Soalnya kami punya misi sosial untuk mereka yang mendengarkan. Kami ingin memperlihatkan banyak fragmen di masyarakat yang ada tapi diacuhkan. Seperti orang-orang yang dipandang sebelah mata. Cara pandang itu yang ingin kami ubah," kata Gilang.

Salah satu lagu baru yang sedang mereka persiapkan adalah "Isyarat Hina". Rully menganalogikan seorang pengemis yang tiba-tiba masuk Mall. Sebagian besar mereka yang melihat pengemis itu bakal merasa aneh dalam hati masing-masing. "Ngapain sih ini gembel ke Mall pasti aneh. Kalau dia punya uang apa yang salah, penampilan bukan segalanya dan dia juga manusia dan dia punya hak. Kenapa harus ada statement seperti itu, itu yang kami mau sedikit sentil pandangan dan pemikiran orang. Orang punya cara dan gaya hidup sendiri. Maksud lagunya seperti itu," beber Rully.

Single pertama, "Derai Tawa" bahkan sudah mulai menyentil pandangan orang. Lagu bertema psikologis yang mengambil cerita 'bullying' itu coba memaparkan kondisi yang bagi sebagian orang itu biasa saja. Manusia, bukan seperti patung atau batu yang tidak punya emosi. Ketika orang dibullying, tidak ada yang tahu bagaimana hati dan dampaknya. Situasi itu mereka tegaskan lewat lirik "Aku bagai tanah yang diinjak tapi tak murka".

"Sebenarnya sekarang bullying efeknya luar biasa. Setiap 40 detik ada satu meninggal karena bullying setelah kami survei. 40 persen remaja di Indonesia mengalami dampak yang begitu, kami kembangin lagi sampai jadilah lagu ini. Ibarat tanah, karena banyak korban bullying yang tidak bisa membalas, tidak bisa melakukan apa-apa karena nanti takut dibilang ngambekan atau tidak lagi ditemani. Padahal hati mereka masih misteri," sambung Gilang.
 
Callkula sendiri berdiri akhir tahun 2017 lalu di lantai atas rumah salah satu personel. Nama itu mereka dapatkan melalui perenungan panjang dengan menggabungkan dua kata dari dua bahasa berbeda. "Call" diambil dari bahasa Inggris yang berarti panggil sedangkan "Kula" dari bahasa Jawa yang berarti aku. "Pengucapannya dengan lafal Indonesia. Artinya ya panggil aku. Untuk rencana ke depan setiap bulan kami mau melempar single dan memperbanyak misi sosial lainnya. Kami ingin kita sama-sama mengubah pemikiran kolot yang masih acapkali muncul di kepala lewat karya-karya Callkula," tutup Ruly. (Des)

BERITA REKOMENDASI