Dalam ‘Sins’ The Finest Tree Merayakan Kebebasan

Editor: Ary B Prass

 

YOGYA, KRJOGJA.com – Kehidupan dimaknai lewat banyak cara. Ada yang memaknainya dengan tergesa-gesa, menempatkan nilai guna dan tukar di atas segalanya. Ada yang memandangnya sebagai jalan sunyi, bersembunyi dari keramaian lalu berbagi dharma sekaligus empu bagi orang-orang meski perut kembang kempis. Ada pula yang lebih cepat mengakhiri perjalanan karena letih dengan kenyataan-kenyataan yang ditanggungnya.

Pemaknaan yang beragam itu lahir setelah memilah banyak nilai yang mengepung sejak kali pertama meneriaki dunia. Dosa adalah satu dari sekian nilai itu. Sayangnya, dosa yang hanya bisa dimengerti sebagai proses, tak pernah bisa dipotret utuh karena tak punya bentuk pasti. Dosa hanya melahirkan proyeksi muram: gelap dan siksa. Di sisi lain, dosa sebagai nilai, adalah panoptikan yang menakutkan bagi orang-orang yang ingin memancang gairahnya.

‘Sins’ single terbaru The Finest Tree membincang perkara itu. Tentang kebebasan memilih, hidup seperti apa yang ingin dijalani. Tentang kehendak yang harus disimpan rapat-rapat karena banyaknya nilai yang menyelinap ke tiap panca indera.

“Senandung kami yang berjudul ‘Sins’ berbicara banyak tentang konsekuensi akan pilihan hidup. Tentang jalan mana yang kamu pilih yang pada akhirnya akan mendatangkan bahagia atau kutuk yang harus ditelan,” kata Elang Nuraga.

Larik U can’t understand The Truth if u have never fallen with lies membuka tafsir lain dalam lagu ini. Larik yang ditulis Cakka Nuraga itu seperti membincang Sabda boneka kayu bernama Zarathustra yang menggemparkan dunia di akhir abad ke-19. Tentang manusia yang harus sanggup menanggung kenyataan bahwa hidup tidak sekadar hitam atau putih, artinya tidak pernah selesai dan penderitaan adalah satu-satunya jalan agar tujuan hidup tercapai.

“Dan terkadang dosa-dosa yang memenjarakan kita membuat kita memahami betapa bahagianya seeokor burung yang terlepas dari kandang,” sambung Cakka.

Tema lagu single terbaru TFT yang direkam di Neverland Studio itu jauh berbeda dari sebelumnya. Mereka tak lagi membicarakan persoalan remaja tanggung yang gagap sekaligus gentar bicara cinta atau patah hati yang menelanjangi logika. Kali ini mereka bicara sesuatu yang lebih besar sekaligus filosofis namun dibungkus dengan aransemen ramah sekaligus nyaman di telinga. Tema-tema remang itu juga dikemukakan lewat musik yang cenderung cerah. Dua keputusan itu memberi tahu banyak hal tentang TFT itu sendiri.

BERITA REKOMENDASI