Dbojast Berjuang Lewat Dangdut Pop Alternatif

Editor: Ary B Prass

YOGYAKARTA memang banyak melahirkan musisi-musisi berbakat. Kota ini juga bisa jadi kawah candradimuka musisi untuk melangkah ke depan. Hampir semua genre musik ada di Yogya, mulai dari kontemporer, pop, keroncong, tradisional, rock, jazz, metal, hingga dangdut. Kali ini di Yogya, tepatnya di Jatisawit, Balecatur, Gamping, Sleman sekumpulan anak-anak muda sedang semangat berkarya lewat musik, diawaki Vaga Restu Aji (vokal), Aris Prabowo (bass), Reva Arya Saputra (lead gitar), Flady Nizhar (rhtyhm gitar), Yusuf Husaini (keyboard), Wahyu Zahir Ma’ruf (drum) dan Setya Ariawan (kendang), mereka menamakan diri, Dbojast. Band ini resmi terbentuk 8 oktober 2020 dan mengusung Dangdut Pop Alternatif.

“Personil kami ada yang berstatus pelajar dan karyawan. Sengaja kami memilih genre Dangdut Pop Alternatif karena dari masing masing personil memiliki genre lagu berbeda beda, sehingga genre Dangdut kami ada nuansa rock, pop, campur sari. Instrumen musik daerah juga kami masukkan ke dalam musik Dbojast,” kata Aris Wibowo, dalam surat elektronik yang dikirim ke Redaksi KRJogja.com, belum lama ini.

Hampir semua lagu Dbojast diciptakan oleh Aris Wibowo, seperti Butuh Atimu, Dadi Siji, Pantaskah, Taubat, dll. Lagu-lagu tersebut diaransemen dan diproduksi sendiri oleh Dbojast Record. Menurut Aris, tembang Butuh Atimu, Pantaskah dan Dadi Siji merupakan satu rangkaian dalam album Trilogi 1. “Menceritakan seorang lelaki yg tidak berani mengungkapkan perasaan cinta kepada seorang wanita. Padahal wanita itu juga menunggu ditembak. Terjadilah beberapa kesalahpahaman di antara mereka yg membuat masing masing dekat dengan orang lain. Akhirnya, mereka tidak menemukan perasaan cinta di orang lain dan si lelaki itu mengungkapkan perasaan cintanya yang diterima oleh sang wanita. Merekapun bersatu dalam ikatan pernikahan,” papar Aris, pemain bass Dbojast.

Beberapa lagu tersebut juga sudah dituang lewat video-klip yang kali ini Dbojast menunjuk Aliansi Production dan Sada Kelana Image sebagai Production House (PH). Menurut Dbojast, perkembangan musik di Yogya sangat pesat. Banyak band lokal seperti mereka yang bermunculan bak jamur di musim hujan. “Saya pikir kalau musik seperti kami, dimulai ketika munculnya Sobat Ambyar fansnya almarhum Didi Kempot. Didukung juga teknologi yang mulai berkembang, sehingga Home Recording dengan mudah kita jumpai. Ini berbeda dengan dulu, sekitaran tahun 2010, saya mau recording lagu saya sendiri hanya ada beberapa studio recording, itu pun harganya mahal. Setelah lagu jadi, masih ada kesulitan untuk mempublikasikan lagu saya. Tapi syukurlah kini semua jadi lebih mudah,” tutup Aris.(*)

BERITA REKOMENDASI