Fajar Biru: Melampaui Keterbatasan Biologis

‘Nyanyian Sukma Lara’ sebenarnya adalah tanda bahwa Fajar Merah telah melampaui dirinya sendiri. Pertanda bahwa ia menjadi manusia merdeka yang telah melampaui keterbatasan biologis dan lingkungan fisiknya, lalu bergerak menjadi sesuatu yang otentik. Lewat album itu, dengan grup Merah Bercerita, Fajar juga melepaskan diri dari bayang-bayang Wiji Thukul yang selama ini melekat kuat dalam dirinya.

“Secara kelas, topik, dan bahasa aku tidak seperti Wiji Thukul dan aku tidak memaksa orang lain menganggap lagu-lagu yang aku tulis sama berbobotnya dengan tulisan Wiji Thukul,” beber Fajar ke sebuah media online beberapa waktu lalu.

Meminjam terminologi materialisme manusia sebenarnya adalah individu unik. Memang tidak bisa terlepas dari DNA yang menurun namun manusia bukan mesin atau materi yang tidak punya pemikiran sendiri. Begitu pula Fajar, apa yang dilakukannya dengan Merah Bercerita lewat ‘Nyanyian Sukma Lara’ adalah bukti kuat bagaimana ia berdiri dengan dua kakinya sendiri, dengan pengalamannya sendiri.

Tidak cukup dengan Merah Bercerita, ia makin menebalkan entitasnya sebagai manusia merdeka lewat proyek anyar bernama Fajar Biru. Titik pijaknya cukup jelas. Di Fajar Merah ia menyadari betul bagaimana tubuhnya dialiri darah yang sama dengan penyair yang hilang ditelan sejarah. Sedangkan konsepsi Fajar Biru individu yang tidak terikat dengan apa yang ada di luar tubuh secara laku dan pemikiran. “Aku melepas diri dari masa lalu, di mana yang di situ (masa lalu) tidak ada Aku. Di sini aku akan berlaku sebagai aku, bukan lagi orang lain,” tegas Fajar.

Estetika musik juga berbeda. Fajar Biru cukup sederhana. Tidak banyak bunyi yang dihadirkan, kebanyakan hanya gitar dan vokal. Temanya juga lebih luas. Fajar seperti menjelajahi lalu merelungi kegelisahannya sendiri usai mendengar suara yang saling bertentangan lalu tumpang tindih. Tiap wajah yang ia temui dalam perjalanan, relasi antarperistiwa yang saling mengalahkan, dan hal-hal lain yang ia rasakan sebagai manusia merdeka. Happy, Manajer Fajar Biru, menambahkan pendengar akan menangkap kesan sepi dan jauh dari identitas Fajar ketika bersama grupnya. “Ini adalah sesuatu yang benar-benar berbeda, bisa dibilang Fajar seutuhnya,” kata Happy.(Des)

BERITA TERKAIT