Gabriela Fernandez Ingatan dalam Dua Cangkir Kopi

Editor: Ivan Aditya

"KUPILIH kau dari yang banyak, tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring", tulis Chairil Anwar dalam ‘Pemberi Tahu’. Larik kuat tentang kehilangan itu memang tak setenar ‘Kepada Sri’ atau ‘Senja di Pelabuhan Kecil : buat Sri Ajati’, namun larik itu menggambarkan gelapnya perasaan mereka yang dijauhi nasib baik percintaan. Penandanya jelas: Kupilih dan Sepi, di mana ketidakteraturan perasaan ketika melakoni dua hal itu.

Larik kuat yang tertidur pulas itu bakal berkelebat di ingatan, khususnya penggemar puisi-puisi Chairil ketika mendengar ‘Aku, Kamu, dan Dua Cangkir Kopi’ yang dinyanyikan Gabriela Fernandez. Lirik Aku kamu dan dua cangkir kopi/yang dingin tak tersentuh/Kau ucap rahasiamu dan kuucap rahasiaku/Lalu sama-sama tak percaya dengan apa yang kita dengar/Sang waktu berlalu tanpa terasa/Pergi tanpa permisi/Cangkir kopi yang tlah kosong pun menanti/Kau dan aku tuk pergi, mengail larik Chairil  yang bicara kehilangan setelah tahu kebenaran itu.

Lagu yang baru saja dilempar ke sejumlah platform digital ini dibuat bersama Ifti Alvidiansari. Gabriela membuat liriknya sementara Ifti melodi dan progresi chord-nya. Riff gitar yang sedikit rumit itu terdengar nyaman di kuping bersama suara cello yang dimainkan Setyawan. Bangunan aransemen itu membuat lirik Gabriela kian menyesak ketika didengar di tengah serak gerimis yang kerap turun di akhir tahun.

"Orang yang mendengar bebas saja merepresentasikan apa yang mereka rasakan ketika mendengar lagu ini. Buatku ya biarkan orang punya interpretasi masing-masing," katanya lalu tersenyum.

Saat tampil live, Gabriel cukup berhasil mengajak pendengar menginterpretasikan imajinasi mereka tanpa malu. Mereka yang mendengar penampilannya lewat "Aku, Kamu, dan Dua Cangkir Kopi" merasai maksud lagu itu dengan pengalamannya masing-masing. Wimar, vokalis Gie, misalnya.

Ketika menonton Gabriela di Selamat Pagi Vol.16 baru-baru ini, ia merasa dibawa ke masa di mana tak bisa menyatakan perasaan pada orang yang disukai. "Pas dengar lirik yang ada 'Bulan Purnama' itu kok rasanya ada penyesalan datang, kenapa dulu saya enggak nembak seseorang yang sudah lama saya sukai. Tiba-tiba saja begitu," kata Wimar.

Meski lagu itu bernuansa folk, bukan berarti musisi yang juga aktif di dunia seni rupa ini merasa ia adalah musisi folk. Genre lagu hanya salah satu media untuk menyampaikan ide musikalnya. "Soalnya aku enggak mau terjebak sama genre atau pengotakan musik. Yang penting jujur saja,"tegasnya. (Swadesta Aria Wasesa)

BERITA REKOMENDASI