Heroic Karaoke Presentasi Karya di Pameran Stiker Band

PAMERAN stiker band dan komunitas di Warung Mojok, Minggu (28/10/2018) juga diisi presentasi karya musik Heroic Karaoke. Berkonsep akustik, Yohanes Saptanugraha (gitar, vokal) dan Paulus Neo (Kibor), membawakan empat lagu bakal masuk ke album perdana di depan puluhan musisi, pemerhati musik, dan pegiat komunitas Yogyakarta. Mereka yang datang antusias membahas tiap karya yang dibawakan, dari musik hingga larik kuat dalam lagu.

Heroic Karaoke membuka presentasi lewat lagu berjudul "Bayang". Lagu ini merupakan kritik terhadap kisah-kisah dongeng atau mitos yang masih bertahan di zaman modern. Larik "jalan-jalan ceritanya sama saja/Di mana semua berupaya menyenangkan hati Raja/Kisah cinta mana yang menandingi Rama dan Shinta/" tegas mengkritik deretan kisah itu.

"Saya suka baca tapi buat senang-senang saja. Lagu ini, kalau teman-teman tahu buku Pramoedya Ananta Toer yang judulnya 'Nyanyi Sunyi Seorang Bisu" yang pertama di bab dua atau bab tiga itu ada judulnya 'Terakhir Kali Nonton Wayang'. Lagu ini impresi saya dari bab itu tentang wayang, di mana ceritanya itu-itu saja. Dewa ngomong sama Dewa, Raja ngomong sama Raja, sedangkan kita yang di bawah-bawah ini tidak pernah disebut, bahkan tidak pernah dapat tempat. Aku kira isinya cuma harapan palsu saja. Saya setuju dengan bab itu," tegas Yohanes yang akrab disapa Jon Boim itu.

"Tanpamu" yang dimainkan selepas "Bayang" juga menarik mereka yang datang. Saat Boim menyebut judul lagu yang akan dimainkan, banyak yang mengira bahwa mereka membawakan lagu bertema cinta. Boim menjelaskan "Mu" yang ada di lirik itu bukan merujuk ke sosok melainkan ke kisah-kisah mitos yang dibawakan di "Bayang". Boim lalu melanjutkan lewat "Tak Kan Hilang di Telan Malam". Lagu ini sendiri kerap meruangkan koor ketika dibawakan live di beberapa panggung. Banyak yang sudah hapal dengan lirik lagu ini. "Lagu ini asalnya dari lirik dulu terus baru musiknya. Muncul saja tiba-tiba beat dan musiknya yang memang sering dibilang orang ada warna melayunya. Secara garis besarnya sudah ada sama Boim terus napasnya seperti ini lalu detailnya kami bikin bareng-bareng," sambung Paulus Neo.

Pengunjung pameran stiker band dan zine yang ikut diskusi banyak yang berpartisipasi. Tasya, mahasiswi YKPN bertanya tentang pilihan musik Heroic Karaoke di tengah semaraknya genre EDM atau Pop Elektronik yang tengah digandrungi anak muda saat ini. Soal pilihan musik, Heroic Karaoke tak mau berpikir tentang mau ke arah mana musik yang akan mereka bawakan. Karya yang mereka hasilkan saat ini adalah hasil kontemplasi dan kejujuran masing-masing personel.

"Kalau pertanyaannya tadi takut enggak main musik begini di tengah populernya genre musik lain, kami jawab enggak. Soalnya ya kami cukup percaya diri. Ini hasil bareng-bareng, pemikiran bersama, dari kontemplasi panjang. Tiap karya pasti punya nasib dan rezekinya sendiri-sendiri," jawab Boim.

"Geliat" seharusnya menutup presentasi karya Heroic Karaoke itu. Namun mereka yang datang minta Boim dan Neo menambah lagu yang langsung dituruti sekaligus menutup presentasi dan pameran stiker band/komunitas. Adapun Heroic Karaoke adalah band yang terbentuk sejak pertengahan 2018 ini. Awalnya mereka memakai nama Jon Boim & Heroic Karaoke namun Boim merasa lebih enak jika ia juga melebur dengan para personel lainnya. Heroic Karaoke adalah Jon Boim, Paulus Neo, Bable Sagala (Drum), Gigih Prayogo (gitar), Tabitha Banu (vokal), dan Doni Kurniawan (Bass). 

Pameran stiker dan zine sendiri dibuat pegiat musik dan komunitas sebagai upaya memperkenalkan karya artworker di belakang band atau komunitas yang turut membantu branding logo band di tengah pecinta musik. Novan Gharux, Kurator stiker dan zine, mengatakan misi lainnya adalah saling mengguyupkan para musisi dan komunitas di Yogyakarta.

"Saling guyup satu sama lain dan mengenal para artworker di belakang band atau komunitas sih tujuan sederhanya itu. Mereka yang datang boleh menempelkan stiker dadakan dan membawa pulang stiker dari band lainnya. Tukaran gitu lah. Untuk zine kami dipinjami banyak teman-teman seperti Udin Otakotor. Ada zine yang membahas tentang band-band besar saat mereka baru menapaki karier. Zine dan stiker itu masih penting di tengah era digital seperti sekarang," jelasnya.(Des)

BERITA REKOMENDASI