Jaga Warisan Keroncong Asli, OK Musik Ayu Diapresiasi WAMI

SEMARANG, KRJOGJA.com – Musik keroncong memang berbeda dengan musik-musik lain yang tumbuh dan berkembang di bumi nusantara Indonesia. Keroncong boleh dikata sebagai genre musik yang lahir dan berkembang di Indonesia sebagai hasil cipta karya bangsa.

"Meski alat-alat musiknya bukan asli Indonesia, namun di tangan bangsa Indonesia muncul irama keroncong sebagai hasil olah pikir dan karya yang prosesnya mungkin dari berabad-abad lalu. Oleh karena itu sudah selayaknya Keroncong menjadi warisan budaya yang harus dipertahankan keasliannya dan dikembangkan agar tetap populer," ungkap Adji Muska, tokoh keroncong di Jawa Tengah.

Adji Muska menepis keroncong makin ditinggalkan dan bahkan dianggap punah. "Faktanya di Surakarta yang menjadi episentrum keroncong masih ditemui puluhan grup orkes keroncong. Apalagi Kota Semarang juga banyak dijumpai grup-grup yang sekarang ini bahkan rutim pentas.

Terlepas ada pula keroncong inovasi yang main tidak bezetting (formasi) 7 (biola, flute, bass, cello, cuk, cak dan gitar), menurut Adji Muska bukan masalah besar. "Selama arus pelestarian kuat atau bahkan seimbang dengan arus inovasi keroncong, itu sangat baik dan sehat. Sebab masyarakat akan tahu mana yang asli dan mana yang inovasi. Tetapi bila keroncong inovasi yang menonjol, maka akan memberi kesan keroncong asli sudah ditinggalkan. Demikian juga bila tidak ada keroncong inovasi, maka orang tahunya keroncong yang begitu-begitu saja.

Untuk menjaga kemurnian keroncong, maka Adji Muska bersama Yuyun, mantan Bintang Radio Keroncong Nasional asal Temanggung mendirikan OK Musika Ayu yang sengaja komitmen pada pembawaan lagu-lagu keroncong asli, baik ciptaan tempo dulu maupun sekarang. Tujuannya untuk menjaga warisan budaya agar tidak mengalami pergeseran karakter.

Wahana Musik Indonesia (WAMI) yang berkantor pusat di Jakarta bahkan memberikan apresiasi terhadap berdirinya OK Musika Ayu yang dipimping Yuyun Aryunati dan diasuh Adji Muska. OK Musika Ayu tidak saja dituntut aktif menggelar pementasan, namun juga membawakan lagu keroncong asli tempo dulu dan menciptakan lagu-lagu kekinian yang patuh berpegang pakem keroncong. 
"Tidak saja sekadar menuntut, melainkan juga memberikan royalti dan dana sebagai penghargaan atas hak kekayaan intelektual seniman keroncong," lanjut Adji Muska.

OK Musika Ayu didukung para biduan dan biduanita tempo dulu, salah satunya mantan Bintang Radio tahun 1963, Amik Dasuki (78). Meski Amik sudah nenek-nenek namun masih memiliki kemampuan bersuara bagus. Selain masih aktif menyanyi, Amik yang pernah mendapat mandat dari Presiden Soekarno di tahun 1963-1964 untuk lawanan ke Amerika memperkenalkan keroncong ini juga sering memberikan tips menyanyi pada peminat keroncong muda.

"Kami sangat berharap musik keroncong ini tetap dipertahankan sebagai warisan budaya. Sebagai warisan budaya jangan sampai mudah tergerus oleh perubahan.Mengingat keroncong tidak sekadar bebunyian musik, melainkan ada filosofinya. Keroncong sebagai media membentuk karakter bangsa dan sebagai media komunikasi sosial," papar Adji Muska.

Dalam pementasan awal tahun di RM Eco Raos Semarang, banyak yang hadir memberikan perhatian. Bahkan ada pula yang 'nyawer' sebagai bentuk apresiasi. "Sekarang ini meski banyak lagu keroncong di internet dan bisa didengarkan di handphone, rasanya kurang marem kalau tidak dinyanyikan dan bisa didengar langsung. Pentas ini bisa mengobati kerinduan kami terhadap lagu-lagu tempo dulu. Karenanya ini bisa jadi acara untuk menemukan kenangan," ujar Emmy, penyanyi Kota Semarang tahun 1980an yang ikut hadir bersama anggota Paguyuban Artis Penyanyi Indonesia Semarang (Parpisma), Minggu (12/1/2020).(Cha)  

BERITA REKOMENDASI