Konser Hangat Risky Summerbee and The Honeythief

RISKY Summberbee and The Honeythief (RSTH) menggelar konser bertajuk "Simulacrum Surround" di Pendhapa Art Space Selasa (20/8) malam. Konser malam kemarin adalah pertunjukan kedua mereka di tahun 2019 setelah 27 Juli lalu di Artjog. Sama seperti di Artjog atau pertunjukan mereka sebelum-sebelumnya, RSTH selalu meninggalkan setumpuk kekaguman pada mereka yang datang. 

Interaksi antarpersonil di atas stage begitu hangat. Tata cahaya dengan takaran yang pas ditambah visual dari Studio Batu kian memanjakan mata. Tata suara yang kerjakan tim di FOH juga menyantuni telinga. Penonton sudah mulai memenuhi area depan stage sebelum jam delapan malam. Kebun Pendhapa Art Space malam itu jadi tempat pertemuan penikmat dan pegiat musik di Yogyakarta di generasi yang berbeda. 

Penikmat sekaligus pegiat musik yang tumbuh bersama lagu-lagu dan gigs RSTH tahun 2000an mengokupansi deretan kursi di depan stage dan samping FOH. Mereka saling sapa dengan penikmat dan pegiat musik kekinian yang terkejut dengan aksi RSTH di Artjog. Tampaknya para generasi Z ini ketagihan menyaksikan band yang sudah merilis tiga album; "The Place I Wanna Go" (2009), "Preamble" (2011), dan "Pillow Talk" (2014).

Pertunjukan mulai tepat jam delapan malam. Risky Summerbee, Yohanes Saptanugraha, Widiasmoro Risang, Doni Kurniawan, dan Yuda Hasfari Sagala menyusung song list bertenaga sekaligus mengikat ingatan penonton yang diambil dari tiga album. Songlist yang mereka susun adalah campuran romantisme, nostalgia, dan paparan realitas yang masih relevan hingga kini. "Mind Game" dalam album "Pillow Talk" jadi perkenalan untuk pendengar musik yang masih asing dengan mereka. Pintu masuk yang tepat pula untuk melihat dari mana dan bagaimana RSTH mengolah musik prog tanpa polah yang berlebihan.

Barisan depan turut bernyanyi 'Could it be you? Or is it me? Is it them? Oh I can’t see. I wonder why there's a thousand pictures of me wherever I lay my hat. When morning come don’t turn around, it's just another side of me' di "Make A Print of Me". Ada legenda urban tentang RSTH di lagu "Flight To Amsterdam". Lagu ini, bagi pendengar yang dahulu akrab dengan gerakan mahasiswa maupun Pers Mahasiswa (Persma) adalah pengingat bagaimana Munir dibunuh. Narasi berikutnya adalah "Revolution" yang disajikan berbeda dengan album. Aransemen yang mereka sajikan di tengah lagu tidak membuat pendengar kehilangan narasi kritik ekonomi Goenawan Mohammad.

Racau dalam "I Walk The Country Mile" didinginkan "Fireflies" berlanjut ke list "On The Bus" yang mengajak pendengar bernostalgia. Bus kota adalah tempat bertemunya kepentingan dan cerita yang membuat manusia belajar menghargai satu sama lain. Sesuatu yang cukup asing dalam realita kekinian. Sejumlah penonton beranjak dari kursi ke samping stage. Mereka tampaknya tidak tahan menyaksikan pertunjukan dengan berdiam diri. Musik RSTH bagi sebagian orang ini sia-sia jika dinikmati dengan anteng-anteng saja.

Di samping panggung penonton tambah banyak. Widi sesekali melihat ke arah mereka lalu tertawa. "Boim, Boim," teriak mereka ketika Yohanes Saptanugraha yang memang akrab disapa Boim itu menghajar "Place I Wanna Go" dan "Picture Of Yesteryear" dengan permainan gitar memukau yang menambah daya ledak lagu. Penonton pun tak rela ketika Risky pamit lalu minta mereka memainkan satu lagi yang langsung dituruti dengan "Slap And Kiss". Menyaksikan RSTH dalam "Simulacrum Surround" yang intim dan hangat malam itu adalah hal terbaik sebelum kembali berkelindan dalam realita. (Des)

BERITA REKOMENDASI