Mengelupasi Kepedihan Sekaligus Melawan Lewat ‘Take Me Home’

Editor: Ary B Prass

KRJOGJA.com – Bagi Maya Nilam, musik barangkali satu dari sekian medium yang paling beradab untuk menaruh tiap cerita. Musik wadah menampung derita dan bahagia yang kerap dirayakan dengan sisa-sisa energinya.

Musik bagi perempuan yang akrab disapa Nilam itu semacam mesin yang menggerakan agar hidup tidak melulu diisi penyesalan sekaligus tempat melawan lupa. Menjauhkannya dari rasa sungsang atas tiap fragmen hidup yang kerap menguap ke udara.

Maya mengawalinya secara kolektif. Dengan komplotan Punk bernama Betterchick yang semua personelnya perempuan saat SMP lalu Lilith sebagai gitaris berlanjut tahun 2018 dengan band Hard Core Throughout.

Dua tahun berselang eksplorasi musik Maya Nilam mempertemukannya dengan beberapa kawan lalu membuat proyek Yorka. Namun itu saja belum cukup bagi musisi kelahiran Jogja 31 tahun lalu itu.

Sejak 2021 Maya Nilam memancang bendera solonya sendiri. Pancang pertama berjudul “Take Me Home”.

Aransemennya diprogram Nadya Hatta (Armada Racun, Melbi, Individual Life) lalu direkam, mixing, dan mastering Dhandy Satria (Catspaw Lab, Aamaga, Summerchild Trio, The Melting Minds).

“Take Me Home” ditulis 2020, satu dari sekian manifestasi perjalanan hidup Maya Nilam sejak kecil hingga detik ini sekaligus titik nolnya sendiri. Tentang pedihnya kehilangan dan pencarian ‘rumah’.

Soal bagaimana Maya melawan trauma dan berbuntal-buntal kenangan atas perundungan, pelecehan hingga kekerasan fisik dan verbal yang diterimanya.

Rasa pedih dan perih itu diuraikan satu per satu, perlahan-lahan, dengan penuh kesabaran sambil menahan ingatan yang sakitnya mungkin lebih buruk dari rasa sakit ketika pisau kecil mengelupasi kulit ari selapis demi selapis.

Rasa pedih dan perih itu disampaikan melalui tiap bunyi yang membaur dengan lirik yang ia tulis sehingga “Take Me Home” punya tempat tersendiri.

Di sisi lain, lagu ini tidak sekadar pancang untuk karier bermusik tetapi juga perlawanannya terhadap kekerasan.

Sebab, tidak setiap perlawanan dilakukan dengan senjata, bom, parang, pedang, atau manifestasi bombastis di atas mimbar.

“Kekejaman terkeji adalah kejahatan yang menyerang mental, bukan hanya sekadar fisik lagi. Menjadi Perempuan di masa sekarang ini harus lebih berani dan lantang bersikap. Semoga tidak ada lagi Penindasan, kekerasan, pelecehan, dan perundungan yang terhadap perempuan, Lawan!” tegasnya.

BERITA REKOMENDASI