Mini Konser LaQuena: Mencari Gairah Masa Lalu

Editor: Ary B Prass

BAND yang sudah berusia 13 tahun ini kembali menggelar konser independen, Rabu (30/11/2016) malam di Hardcase Cafe dengan penonton terbatas. Bertajuk "Showcase Matahari" LaQuena: Julia Candra (vokal, gitar), Garry Mailangkay (gitar), Alvian Vinuria (drum) dan Agib Tanjung (bass) memainkan repertoar lagu di album terbaru "Matahari". Penonton yang hadir kebanyakan rekan-rekan mereka sendiri yang mengiringi perjalanan LaQuena sejak 2003.

Julia, di mini konser proses pembuatan album baru 2 Juni 2016 di melodia musik sempat mengatakan bahwa album ini menandai kebangkitan setelah vakum cukup lama dari dunia musik Indonesia. Banyak yang berharap penanda ini jadi petanda baik laiknya konser di PKKH UGM empat tahun lalu, di mana LaQuena bebas tanpa setelah enam tahun terkurung dalam fase gelap. "Kami ingin LaQuena seperti yang dulu lagi, pas vakum lama setelah 2006 bisa memberikan kemarahan di konsernya. Makanya kami datang untuk menyaksikan itu," kata Alfonius, salah satu fans yang datang dari Solo ketika diwawancara sebelum konser.

Pukul 20.00 WIB, suasana cafe sudah riuh. Sekitar 100 penonton sesak memenuhi ruangan cafe yang sering dipilih band lokal itu dalam membuat mini konser. Kursi-kursi terisi penuh. Penonton yang tak kebagian kursi memilih lesehan atau berdiri di dekat panggung. Selang beberapa lama, Julia, Garry, Agib dan Alvian naik ke atas panggung. Kesan Klandestin langsung terbaca lewat kostum yang mereka pakai: topeng pantomim Inggris abad ke-19 seperti Grotesque atau tokoh-tokoh dalam The Harlequinade.

Tak banyak bicara, mereka langsung berusaha membakar penonton dengan "Grudge", "Lemari Jiwa", dan "Aku" dari album baru. Musikalitas mereka masih terlihat gahar dan menjanjikan ketika menggeber tiga lagu itu. Namun, terlampau sulit mencari emosi seperti yang kerap terasa di konser-konser mereka di masa lalu. Julia, tampak ngos-ngosan beruntun membawakan tiga songlist awal.

Konser Rock adalah persetan dengan ketepatan titik nada ketika lantang menyuarakan pesan dalam tiap lagu. Penyemaian emosi pada penonton dengan aksi-aksi provokatif berada di urutan teratas. LaQuena mencobanya dengan nomor "Aku" sekaligus  mengajak penonton meruangkan koor, namun direspon seadanya. Gagal mengajak para penontn berteriak lantang di nomor "Aku", LaQuena berusaha lagi di nomor "Matahari", "Black Dot", "Rawk People", hingga "Janji". Penonton masih tak beranjak dari kursi atau tempat semula untuk melantai mossing mendekat ke panggung.

Hingga "Musuh Manusia" jadi lagu terakhir, konser kemarin malam dingin. LaQuena tak seperti biasanya. Julia tak seperti biasanya. Ia tak lagi menjadi jenderal seperti menahun lalu yang mampu mengintimidasi ratusan bahkan ribuan orang di depan matanya. Namun, secara keseluruhan mini konser kemarin memang masih membuktikan band rock yang mengawali karier di album kompilasi Nescafe Get Started itu masih ada dan belum mati meski gagal memberi kehidupan.

Premis terjawab ketika selepas konser Julia bercerita banyak tentang kondisi dirinya dan LaQuena. Sebelum hari H, Julia merasa didiamkan oleh tiga personel lainnya. Ia pun membuat perencanaan konser mini itu seorang diri. Julia memikirkan konsep dari awal dari desain dan lain-lain. "Kami ngomong dari hati ke hati. Mereka bilang ini (mini konser) adalah ajang menunjukkan dirimu sebagai Julia LaQuena yang dulu. Mungkin saking lamanya saya menjauh dari musik mungkin energi, passion, dan kesibukan saya terus saya memang sering ragu dan bimbang dan itu yang harus saya lawan," cerita Julia.

Ada sisi positif yang diambilnya dari mini konser kemarin. Julia berterima kasih pada personel atas pembelajaran yang diberikan. Menurutnya kalau dia tidak didiamkan, dirinya tidak akan berubah dan tidak pernah sadar. "Kalau selama ini apa yang kami berikan untuk LaQuena masih sangat-sangat kurang," sambungnya.

Di dunia musik Rock Indonesia, LaQuena adalah satu dari sedikit band yang masih setia pada musik rock dengan vokalis perempuan. Sejak terbentuk dengan formasi awal Julia Candra, Sandy Tanarius, Adhe Yotolembah dan Rachmad Ibrahim, LaQuena konsisten dengan musik Rock. Pun saat mengalami transisi pada 2007-2008 dengan pergantian drummer yang dilanjutkan kevakuman hingga 2012 dengan formasi yang sekarang. Jejak berdarah itu yang membuat Julia kini ingin mengulik dirinya yang dulu lalu menaikkan level LaQuena.

"Mungkin saja nanti saya meninggalkan LaQuena. Semuanya mungkin. Tapi untuk saat ini saya bilang tidak karena saya sangat menyayangi band ini. Saya ingin LaQuena tetap ada dan bisa naik level lagi menjadi lebih baik," tegas Julia.(Des)

 

BERITA REKOMENDASI