Peace Has Gone Portelea Bawa Kebanalan Realitas

“Di situasi sekarang kita telah kehilangan waktu kontemplasi. Ruang untuk merenung diruntuhkan padahal kontemplasi kita bisa mengingatkan kita tentang banyak hal. Dari kejujuran dengan diri sendiri, melihat apa yg sudah kita perbuat untuk kita sendiri dan sekitar kita, berdamai dengan diri kita sendiri,” tutur Catur Kurniawan, music programer Portelea.

Setelah meluncurkan “Kundera” yang berlirik bahasa Indonesia, dalam “Peace Has Gone” Portelea kembali memaparkan kengerian realita kekinian dalam bahasa Inggris seperti tiga lagu dalam mini album mereka:”Silent Screaming”, “Darx Box”, dan “Traces of Love”. Ada gelisah yang tak kunjung tuntas dalam realita kekinian. Dari urusan politik, perut, agama, hingga mayat dipolemikan hingga sedemikian brutal.

Intoleran telanjang bulat, mayat ditolak dimakamkan, anak membunuh ibunya, bapak memperkosa putrinya, rakyat mengutuk pemimpinnya, pemimpin membodohi rakyatnya. “Chaos. Itu yang muncul dalam kepala saya ketika mengeksekusi aransemen Yoyok (sapaan akrab Catur),” sambung Rigisa vokalis Portelea.

Proyeksi chaos datang di tengah lagu. Mereka sengaja memasukan suara siaran-siaran radio dari perang dunia 1 sampai ke perang teluk, penanda sekaligus pengingat bahwa pertumpahan darah berawal dari keserakahan dan ketamakan satu golongan untuk berkuasa. “Untuk lingkup kecilnya terutama di negara indonesia tercinta ini disaat intoleran satu golongan atau perorangan menyebar ketakutan ke kelompok lain. Kita sudah kehilangan ruang kontemplasi, dari sana ide lagu ini sekaligus mengajak merenung,” pesan Catur.

BERITA REKOMENDASI