Penyanyi Australia Dan Sultan Ternyata Penggemar Gudeg

PENYANYI Australia, Daniel Leo Sultan atau yang biasa dikenal dengan nama Dan Sultan merasa senang bisa tampil di Yogyakarta, tepatnya di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Selasa (3/12/2019) lalu. Sebagai salah satu penduduk asli Australia, kesempatan untuk bernyanyi di Indonesia tak bisa ia lewatkan.

Selama Dan Sultan di Yogyakarta, tim KRjogja.com berkesempatan untuk mewawancarainya usai menggelar lokakarya kepada musisi dan pelajar musik. Baginya, Yogyakarta adalah kota yang indah dengan kebudayaan yang mengakar kuat. Penyanyi kelahiran 1983 itu juga menyukai masakan khas Yogyakarta, yakni Gudeg.

“Saya sangat senang berada di sini, meski sedikit jetlag karena perbedaan waktu empat jam dengan Sydney,” bukanya kepada KRjogja.com. Selama wawancara, Sultan pun terbuka dengan semua pertanyaan yang diajukan tim KRjogja.com. Namun, ia tetap bungkam berkaitan dengan album baru yang akan ia rilis di tahun depan.

“Belum, saya belum mau bicara tentang itu. Nanti saja, tunggu saja dulu,” ucapnya sembari tersenyum. Meski begitu, ia meyakinkan karyanya yang terbaru akan lebih baik daripada album-album sebelumnya.

“Bagi saya, album saya sebelumnya sudah bagus, tapi saya selalu ingin belajar terus agar bisa menghasilkan karya yang lebih baik,” tutur penyabet ARIA Music Awards of 2010 sebagai Best Male Artist dan Best Blues and Roots Album itu.

Ditanya mengenai makna penghargaan GQ Awards 2019 yang baru-baru ini ia terima, Sultan kembali bersyukur. Sebab, penghargaan tersebut adalah hal yang positif untuk karirnya. Ia berhasil memenangkan nominasi Musician of The Year yang membuat eksistensinya semakin diperhitungkan di jagad industri musik di Australia.

“Itu berdampak positif untuk ketenaran dan kesempatan yang bagus untuk berterimakasih kepada beberapa orang, seperti keluarga, istri, manajemen, label rekaman dan semuanya. Juga, waktu yang tepat untuk berdandan,” terangnya sumringah.

Dengan banyaknya penghargaan yang pernah ia terima sejak pertama kali terjun ke dunia tarik suara sejak 2006, Sultan mengakui itu menjadi penyemangatnya untuk terus berkarya. Hingga kini, ia sudah memiliki setidaknya enam album untuk dikoleksi.

“Hidup saya sekarang lebih baik. Saya adalah seseorang yang beruntung setelah melewati banyak rintangan dalam hidup. Saya punya bayi perempuan di Sydney yang selalu saya rindukan. Keluarga adalah segalanya buat saya,” jelasnya. Tak heran, sebagian besar albumnya banyak menceritakan tentang naik turunnya kehidupan Sultan.

Pada album ‘Aviary Takes’ yang dirilis Maret 2019 lalu misalnya, Sultan menggubah sejumlah lagu lawasnya dengan musik baru. Dirinya seperti tak kehabisan ide untuk terus berkarya.

Ia juga menyanyikan kembali lagu penyanyi lain, seperti ‘Dog Days are Over’ milik Florence & The Machine, ‘Look at Miss Ohio’ milik Gillian Welch dan ‘Love & Hate’ milik Michael Kiwanuka.

“Ya, itulah motivasi saya menulis lagu, kehidupan. Naik turunnya kehidupan selalu jadi inspirasi saya menulis lagu,” kata Sultan lagi. Meski begitu, ia mengaku tidak menulis lagu setiap hari. “Ya kalau ada ide, langsung saya tulis atau saya rekam. Maka, saya selalu bawa bolpoin di tas atau hape saya selalu nyala. Saya membuka diri dan siap untuk itu semua,” katanya.

Ketika dikaitkan mengenai album terbarunya ‘Nali & Friends’, Sultan sempat tertawa. Ia menjelaskan, album tersebut tidak berhubungan dengan kehidupannya, tetapi dirinya ingin sesuatu yang baru. 

“Itu album anak-anak. Saya suka tantangan soalnya. Jadi saya coba merilis album anak-anak. Riskan juga, karena kita awalnya tidak tahu itu sukses atau tidak. Ternyata sukses, jadi nomor 1 Best Kids Album di Australia,” ucap Sultan sembari tertawa.

Ia berharap, dirinya bisa terus berjalan-jalan ke seluruh dunia di tahun yang akan datang. “Saya senang bepergian ke suatu tempat sebanyak mungkin. Itu menantang sekaligus memberikan wawasan baru,” tandas Sultan. (R-1)

BERITA REKOMENDASI