Raja Singa : Untuk Api yang Menolak Padam di Depan Istana

DONNY Verdian tampaknya belum puas merilis karya. Usai melempar ‘Suluh’ awal Juni lalu, produser sekaligus pengamat musik Donny Verdian meluncurkan single teranyar berjudul ‘Raja Singa’. Laiknya ‘Suluh’, single yang digarap bersama Alvon Ditya Arusdikara dan Ignasius Bowo Sarjito ini kembali menyajikan realita ke pendengar.

“Secara tema, Raja singa merekam perjuangan kawan-kawan Aksi Kamisan yang setia menuntut penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu di depan Istana Negara. Ketika sedang mendalami materi lagu ini, aku membayangkan Bu Sumarsih yang begitu gigih di garis depan,” ungkap Donny.

Donny dan kawan-kawan memindahkan energi sekaligus harapan kawan-kawan di Aksi Kamisan itu dengan larik lugas dibalut musik balada yang gampang “singgah” di telinga pendengar musik. Larik ‘Anak kami yang bunuh siapa?’ mewakili tuntutan kawan-kawan di Aksi Kamisan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Tak hanya mewakili kawan-kawan massa aksi, lagu ini juga menyindir para politikus yang berjanji menuntaskan kejahatan masa lalu sebagai alat kampanye namun mematung saat memeroleh kursi kekuasaan. Larik ‘Raja berganti raja tak satupun memalingkan muka…

Raja kami bukan raja singa dia satu di antara kita manusia/Raja kami raja untuk semua tapi mengapa kau diam saja’. Gelapnya realita diinterpretasikan dengan cukup baik lewat gesekan biola Alvon.

Lagu ini tak satu arah. Maria Catarina Sumarsih, sosok yang disebut Donny sekaligus salah satu penyintas kejahatan HAM masa lalu mengapresiasi ‘Raja Singa’. Baginya, lagu ini menjaga api semangat mereka selama menuntut keadilan. Lagu ‘Raja Singa’ bahkan akan ia kirimkan ke Presiden Joko Widodo dalam waktu dekat. “Orang-orang seperti Donny inilah yang terus menyemangati saya,” respon Maria Catarina Sumarsih.

‘Raja Singa’ sebenarnya lebih dulu diciptakan Donny sebelum ‘Suluh’. Waktu itu sekitar pertengahan 2018, musisi sekaligus superblogger ini sering
mengadakan workshop dengan para musisi Indonesia yang tinggal di Sydney dan sekitarnya, termasuk Sawung Jabo. Dalam workshop itu mereka bertukar
materi untuk digarap. Single teranyar itu salah satu materi yang mereka kerjakan bersama. Namun ‘Raja Singa’ baru dikerjakan tahun 2020 karena memang sebelumnya tak pernah terpikir untuk merilis lagu ini ke kanal-kanal musik digital berbayar.

Donny menggarap guide kemudian dikirim ke Bowo yang berdomisili di Jambi.  Dari data mentah, Bowo lantas mengaransemen lagu dibantu oleh Yohanes Fajar D.K (bass) dan Rohmo Pinayungan (drum). Ketika musik dan vokal sudah jadi, barulah muncul ide untuk mengajak Alvon. Raja Singa kini bisa dinikmati melalui kanal-kanal musik digital terkemuka. Hasil pemasukan dari lagu ini seluruhnya akan disumbangkan untuk kelangsungan hidup Sanggar Seni Notoyudan yang dikelola Alvon dan kawan-kawannya. “Supaya lagu ini sepenuh dan seutuhnya untuk masyarakat banyak di Tanah Air” tutup Donny singkat.(Desta)

 

BERITA REKOMENDASI