Relung, Havinhell, dan DJ Gunsky Tutup Pameran Virtual Art Collective

Editor: Ary B Prass

TIGA band dengan corak musik berbeda menutup pagelaran pameran rupa "Virtual Art Collective" di Asmara Art & Coffee Shop. Rabu (7/12/2016) malam kemarin. Relung pengusung Art Folk, Havinhell yang bergerak di Sweet Punk, dan musik elektronik DJ Gunsky sengaja dipilih untuk merepresentasikan seni urban dalam pameran yang digelar mulai 18-25 November lalu di Sangkring Art Project, Nitiprayan, Bantul. Sebelum tiga musisi ini beraksi lebih dulu disajikan pidato urban oleh Hendra Himawan yang membincang fenomena pengarsipan dan seni urban itu sendiri.

Gelaran musik dibuka Relung. Band Art Folk yang membawakan musik pop bernotasi Jawa dengan lirik-lirik yang diambil dari petuah dalam serat Jawa. Tabitha (vokal), Gilang (gitar, synth), Andy (gitar), Ridho (drum), dan Darma (bass) membawakan empat lagu yang cukup menentramkan para pengunjung penutupan pameran. Petuah Jawa klasik dalam kesusateraan Jawa diperdengarkan lewat "Warana", "Lan Tuk", dan "Manungsa".Pengunjung pun seolah terbawa dalam kekeramatan lirik yang sukses diubah laiknya mantra.

Usai Relung, unit Punk Pop Havinhell unjuk gigi. Ika Zidan (bass), Diajeng (gitar), dan Aries Ebo (drum) tampil maksimal dengan lagu-lagu Punk beat. "Kawan atau Lawan" pun sukses membuat cafe bernyanyi. Pesta berlanjut di tangan DJ Gunsky yang membawakan beat-beat elektronik. Ketika menyajikan beat dangdut, pengunjung penutupan pameran tumpah ruah ke depan portible. "Asyik nih main di sini, tantangan banget hari ini," kata Diajeng semringah ketika ditemui usai perform.

Adapun pameran Virtual Art Collective diikuiti sembilan seniman muda yang bergerak di berbagai bidang sub-kultur seperti tato, drawing, street art, grafis, desain grafis dan tipografi. Sembilan seniman yang ikut ambil bagian adalah Artz, Asgra, Blackface13, Esa Adi, Fajar Abadi, Nandi Yoga, Pofobag, R Fajar, dan Silencer8. Kesembilan seniman itu pun bukan sembarangan. "Soalnya sepak terjang karya mereka bisa dilacak lewat berbagai ilustrasi produk seperti cover album, kaos, tato, sampai grafiti di jalan yang sering disaksikan", beber ucap Huhum Hambilly, selaku penulis pameran dan pengamat subkultur.

Tidak hanya memajang karya, selama pameran berlangsung Everythink menghadirkan aneka workshop dan diskusi dan screening. Pada tanggal 20 November diadakan Typografi and Drawing Studies di areal Galeri Sangkring. Para pemandu workshop adalah peserta pameran, pada momen ini publik dapat berkomunikasi dan belajar langsung dengan para seniman terlibat. Berikutnya workshop mentato yang dipandu oleh Nandi Yoga dan Nyoman Asgra pada 22 November, juga screening dan diskusi film bersama Panca DZ dan Toto Sudioarjo.

Menurut Huhum, rangkaian kegiatan sengaja digelar dengan mempertimbangkan kerja sosialisasi dan edukasi. Mereka ingin mengkaji dan mendistribusikan kerja-kerja edukasi di wilayah tren anak muda urban. Peristiwa seperti ini juga jarang digagas namun sesungguhnya perlu, sebab anak-anak muda lebih agresif dalam merespon isu. Selain itu ada juga patch dengan teknik cukil oleh Aswina Gunari dan Esa Adi di Yogyatourium.(Des)

 

BERITA REKOMENDASI