Rubah Lost in Puppets: Misi Budaya Rubah di Selatan

ADA tanggung jawab besar di pundak Ronie Udara (perkusi), Malinda (vokal), Gilang (gitar, vokal), dan Adnan (Kibor) usai menerima penghargaan sebagai band dengan karya kreatif dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) beberapa waktu lalu di Yogyakarta. 

Mereka, yang ketika melebur akrab dikenali sebagai Rubah di Selatan, harus membuktikan diri bahwa penghargaan itu layak. Label kreatif di belakang nama band yang kerap dikategorikan bergenre folk itu bukan sekadar aktivitas estetik semata namun jadi penyibak jalan hidup partikular yang membawa nilai-nilai.

Mereka menjawab tantangan itu lewat sebuah pertunjukkan hasil kerjasama Djarum Foundation dan Tim Garin Nugroho di Galeri Indonesia Kaya (GIK) Jakarta, Sabtu (03/03/2018) lalu. Bertajuk 'Rubah Lost in Puppets', pertunjukkan ini menggabungkan musik kontemporer dan wayang. Band yang lagu-lagunya sempat jadi backsound peragaan busana sebuah perusahaan batik raksasa Jerman di Jepang itu memvisualkan enam karya lewat wayang dengan dalang Ki Hariyanto dan Ki Wahono. 

"Tajuk 'Rubah Lost in Puppets' adalah gambaran ketersesatan kami di kota besar, dalam hal ini Jakarta. Tapi ketersesatan ini punya konotasi yang baik di mana kami bisa berbagi cerita dengan orang-orang baru yang asing di lingkungan yang juga serba baru. Alasannya sesederhana itu saja," beber Ronie.

Ada enam lagu yang mereka bawakan di depan limapuluhan orang yang menyaksikan pertunjukkan. Enam lagu saling berkaitan satu sama lain yang membentuk jalan cerita di tangan para dalang. Bagi mereka yang sering datang ke pertunjukkan Rubah di Selatan di Yogya, tak akan asing dengan repetoar yang dibawakan karena diambil dari Macapat Jawa tentang fase kehidupan.  Rubah juga membuat 40-an jenis wayang, termasuk lakon mereka sendiri yang digambarkan sebagai punakawan. (Des)

BERITA REKOMENDASI