Tentang Blues Asam Urat dan Album Baru

Editor: Ivan Aditya

BLUES harus bergerak. Pandangan itu disampaikan Gugun Blues Shelter ketika manggung di Yogyakarta, Selasa (13/06/2017) petang kemarin. Lewat lagu-lagu dalam album terbaru ‘Hitam Membiru’, Gugun (gitar), Bowie (Drum), dan Fajar (Bass) mempresentasikan pandangan itu ke mata, telinga, dan hati tiap mereka yang datang ke Hotel Easrparc sore tadi.

Single yang berjudul sama dengan tajuk album:Hitam Membiru membuktikan bagaimana Blues sangat luwes. Musik yang awalnya lahir dari gumam para budak rindu merdeka itu bisa mendimensi bagi telinga orang Indonesia. Setidaknya itu yang terasa ketika lirik berbahasa Indonesia meluncur lalu terdengar nyaman membalut beat dengan kualitas sound yang akrab di telinga orang Indonesia.

"Kami di sini (Yogya) enggak sekadar manggung biasa. Kami mau kampanye bahwa Blues itu tidak melulu berpakem pada satu atau dua musisi atau zaman. Enggak melulu kaya Buddy Guy dan di luar itu enggak bisa disebut Blues. Kami mau kampanye bahwa Blues berkembang, bergerak, dan bisa dinikmati oleh semua kalangan. Intinya bukan Blues asam urat," tegas Bowie ditemui usai manggung.

Ada orang-orang yang beranggapan bahwa Blues bukan musik populer di Indonesia. Kata ‘Populer’ di sini merujuk pada pakem industri musik dengan kriteria musik yang nyaman didengar dan diteria semua kalangan. Namun bagi band yang sudah punya sembilan album dan sering main ke luar negeri ini Blues bisa dipopulerkan dan diterima semua kalangan.

Di album ‘Hitam Membiru’ mereka membuktikan bagaimana Blues bisa di-blend dengan lirik berbahasa Indonesia dan bisa diterima. "Kuncinya di lirik yang mudah diterima masyarakat. Kalau bahasa Inggris kan belum tentu sampai. Kami coba mengulik, kata'populer' itu bagaimana sih dan bikin musik yang bisa diterima juga," sambung Gugun.

Album baru yang rilis akhir 2016 lalu itu memang luar biasa. Ini adalah album dengan lirik bahasa Indonesia kedua setelah ‘Satu Untuk Berbagi’ 2011 lalu. Direkam di Amerika, album ini berisi campuran lagu lama dan track baru dari Band yang selalu menampilkan aksi panggung gila itu. Fajar, Bassist yang masuk menggantikan Jono tidak kesulitan bermain bersama mereka. Cukup bisa dipahami mengingat bassist yang akrab dengan line Funk dan Jazz ini dulunya satu tongkrongan dengan Bowie dan Gugun.

Tidak ada masalah meski harus menghapal sekitar 100 lagu Gugun termasuk cover dari sembilan album yang sudah dilahirkan. Ada pakem yang tidak boleh dilanggar Fajar namun ia diberi kebebasan mengeksplorasi musik GBS. "Rekamannya di Amerika tapi proses mixing-nya di Indonesia. Semangat dalam album ini masih sangat sama seperti album kami pertama dan bahkan lebih," kata Gugun.

Dalam aksi panggungnya tadi, GBS tampil maksimal. Seperti biasa, gebukkan drum bertenaga dengan line bass padat selalu menghasilkan beat yang susah ditolak bergoyang. Gugun, mengeksplorasi habis vokal dan skill gitar yang juga selalu sukses mengundang decak kagum.Penampilan yang benar-benar memberi pandangan bahwa salah besar jika musik Blues hanya bisa dinikmati dari lemari pendingin. (Des)

BERITA REKOMENDASI