Menyimak Lantunan Tembang Naskah Kuna 'Serat Maduwasita'

user
Ary B Prass 13 Juni 2022, 18:57 WIB
untitled

BANTUL, KRJOGJA.com - Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (FBS UNY) Prof Suwardi Endraswara MHum melantunkan beberapa tembang macapat ketika membedah Naskah Kuna Koleksi Langka Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY.

Bedah naskah berlangsung di Grahatama Pustaka Banguntapan Bantul, Senin (13/6).

Naskah kuno yang dibedah Serat Maduwasita memang berupa tembang. Prof Suwardi yang pernah menjadi redaktur Majalah Mekar Sari juga mengajak hadirin peserta bedah naskah. untuk ikut melantunkan tembang.

Prof Suwardi sebagai narasumber didampingi oleh Dr Aris Aryanto SS MHum yang merupakan Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Meskipun membedah naskah kuna berbahasa Jawa, namun moderatornya berasal dari Ambon yakni Mahasiswi Magister Sastra Universitas Gadjah Mada Fara Dewi Tawainella yang juga penulis buku anak.

Topiknya adalah 'Ajaran Berumahtangga', bedah naskah Serat Maduwasita karya Ki Padmosusastro oleh Prof Suwardi dan serat Darmasonya oleh Dr Aris Aryanto.

Dalam Serat Maduwasita beberapa nasehat berumahtangga dengan memperhatikan hewan di sekitar.

Dalam tembang Asmaradana diceritakan dialog dengan hewan orong-orong. Manusia yang mendengar suara orong-orong berbunyi merasa terganggu.

Sementara orong-orong berpendapat biarlah manusia merasa terganggung karena kekayaannya diperoleh dengan tidak halal.

"Dalam Serat Maduwasita ada tiga tingkatan kehidupan rumah tangga. Nista, madya dan utama. Nista itu hidup miskin sengsara, madya cukupan sedang utama kaya. Tapi umumnya orang Jawa memilih yang madya, sedang-sedang saja,"kata Prof Suwardi.

Peserta bedah naskah terdiri wakil komunitas dan wakil instansi, serta beberapa orang dari pemustaka Grahatama Pustaka.

Peserta juga diminta memberikan penilaian jalannya acara, materi yang disampaikan serta bagaimana narasumber menyampaikan materinya. (War)

Kredit

Bagikan