Dengan Prokes, Pagelaran di Pendopo Timur Sonobudoyo Kembali Dibuka

user
jono 28 November 2021, 13:07 WIB
untitled

YOGYA, KRJogja.com - Pagelaran di Pendopo Timur Museum Sonobudoyo kembali dibuka untuk umum, Sabtu (27/11/2021) setelah sebelumnya ditampilkan secara daring. Pengunjung bisa menikmati pagelaran dengan tetap sesuai protokol kesehatan. Dalam satu minggu, terdapat tiga macam pertunjukan utama, hari Selasa Wayang Kulit, hari Rabu dan Kamis Pertunjukan Kesenian Daerah, hari Sabtu dan Minggu Wayang Topeng Panji.

Pemandu dari pertunjukan kesenian yang ada di Museum Sonobudoyo, Yusuf Putra Utama menuturkan, bahwa pengunjung bisa menikmati pagelaran tetapi dengan kuota terbatas. Selain itu, harus memenuhi syarat protokol kesehatan supaya bisa masuk ke Pendapa.

“Secara teknis, tempat duduk dan kuota dibatasi, maksimal 50 orang,” jelasnya (27/11).

Yusuf juga menjelaskan bahwa, untuk alur masuk, pertama, pengunjung harus mencuci tangan terlebih dahulu yang sudah tersedia di luar Pendapa. Setelah itu screening dengan pedulilindungi atau bisa juga menunjukan kartu vaksin, dengan minimal vaksin dosis satu. Selanjutnya, cek suhu tubuh, dengan syarat dibawah 35 derajat celcius, dengan begitu pengunjung akan diizinkan masuk dan membeli tiket.

Untuk pengunjung yang ingin menikmati hari liburnya, bisa dengan menonton pagelaran Wayang Topeng Panji, yang digelar setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu mulai pukul 20.00-21.15 WIB. Dengan harga tiket Rp. 20.000 (domestik) dan Rp. 50.000 (mancanegara). Setelah membayar tiket, pengunjung akan diberi brosur yang berisikan agenda pementasan Wayang Topeng Panji dan sinopsis dari episode pagelaran yang sedang berlangsung. Bahasa yang digunakan pada sinopsis tersebut ada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang.

Pada pertunjukan wayang topeng Panji penonton akan disuguhkan kisah antara Raden Panji Asmarabangun dan dewi Sekartaji. Untuk pagelaran di Pendopo Timur Sonobudoyo, terdapat 6 episode, Sekartaji Boyong, Andhe-andhe Lumut, Kiana Jayengsari, Kudhanarawangsa, Ragil Kuning Murca, dan Jati Pitutur-Pitutur Jati.

Dosen Jurusan Tari, Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sekaligus penata tari Grup Sumonar, Dr Sumaryono MA mengungkapkan bahwa sebenarnya kisah Panji memiliki banyak versi. Namun, pada intinya, panji itu tentang hilangnya Sekartaji, lalu pengembaraan, beralih rupa, kemudian berperang dan beralih menjadi aslinya.

“Banyak versinya itu, seperti Panji Semirang salah satu cerita Panji dimana Sekartaji menjelma menjadi laki laki. Pada intinya, cerita panji itu dimulai dari hilangnya Sekartaji, pengembaraan, saling mencari, lalu berubah wujud, lalu roman, panji itu kan roman,” pungkasnya.

Lutfiana Rizqi Sabtiningrum

Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam

UIN Sunan Kalijaga

Kredit

Bagikan