‘Sanggitan’ Hanoman Mencari Ibu, Kenalkan Keunikan Kabupaten Magelang dengan Sisa Peradaban Budha

user
Ary B Prass 25 Oktober 2021, 14:57 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com -  Direktorat Musik Film dan Animasi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melaksanakan program keempat Aksi Selaras Sinergi (Aksilarasi) pembuatan film pendek di destinasi wisata super prioritas. Kali ini, Kemenparekraf menggandeng masyarakat di Kabupaten Magelang untuk membuat film pendek sebagai salah satu produk kreatif unggulan setempat.

Mohammad Amin, Direktur Direktorat Musik Film dan Animasi Kemenparekraf, mengatakan program Aksilarasi merupakan upaya pemerintah mendorong terciptanya produk kreativitas masyarakat. Konten dan karya yang dibuat masyarakat diharapkan bisa mengisi ruang di destinasi-destinasi super prioritas Indonesia.

“Sebenarnya bukan hanya film tapi penerbitan, seni rupa, musik, seni pertunjukkan juga ada lima. Produk kreatif ini jalan masuk bagi kita agar produk punya dampak pada masyarakat, community development intinya. Masyarakat terlibat dalam karya,” ungkapnya di sela workshop di kawasan Jalan Mangkubumi, Senin (25/10/2021),

Di Kabupaten Magelang, yang menjadi destinasi super prioritas dengan peninggalan peradaban Budha, Candi Borobudur, bakal diproduksi film pendek oleh komunitas Priuk Imajinasi. Komunitas tersebut merupakan komunitas tari yang akan menuangkan lakon Hanoman Mencari Ibu dalam sebuah film pendek.

Tito Imanda, didapuk sebagai produser sementara Suparno, salah satu seniman tari akan mengawali kiprahnya sebagai sutradara. Film tersebut akan mengambil latar keindahan Kabupaten Magelang dengan hutan di kawasan Merapi serta Candi Mendut yang eksotis.

“Kami ambil lokasi-lokasi terbaik yang ada di Kabupaten Magelang. Kami berharap film ini bisa memancing wisatawan untuk penasaran datang ke Magelang. Kami coba tuangkan lewat film, ada alur cerita menarik di mana semua yang terlibat dalam proses produksinya merupakan warga setempat,” ungkap Tito.

Sementara sang sutradara, Suparno, memberikan penggambaran bagaimana secara garis besar film akan menceritakan bagaimana Hanoman merindukan ibundanya, Dewi Anjani. Film pendek itu nantinya akan sedikit menampilkan dialog antar pemain dan banyak menjelaskan cerita dengan tarian.

“Ini mungkin akan jadi sebuah film tari, menggabungkan tari modern dan klasik dengan alur cerita sanggitan Hanoman merindukan ibundanya. Harapan saya, ceritanya nanti tersampaikan dan bisa menunjukkan luar biasanya potensi Kabupaten Magelang,” tandas dia.

Proses syuting film akan dimulai 26 Oktober di beberapa lokasi eksotis Kabupaten Magelang. Produksi film melibatkan 10 pemeran yang mayoritas penari kecil dari Kabupaten Magelang. (Fxh)

Kredit

Bagikan