Tari Bedaya Ciptaan Sultan HB X Tak Dibawakan Oleh Putrinya, Kenapa?

user
danar 09 Maret 2021, 06:30 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Menandai 32 tahun naik tahta sebagai Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menciptakan tari bedaya. Sedianya karya tersebut akan dipergelarkan Minggu, 7 Maret 2021 bertepatan dengan Jumenengan Dalem. Hanya saja karena masih dalam masa pandemi Covid-19, rencana tersebut ditunda sampai situasi mengizinkan.

"Tapi kami belum tahu kapan," kata GKR Mangkubumi (akrab disapa Gusti Mangku) usai menghadiri Sarasehan Jumenengan Dalem yang diadakan Paniradya Kaistimewan bersama Sekber Keistimewaan DIY di Pendapa Agung Royal Ambarrukmo, Minggu (7/3/2021) malam.

Mengenai judul, penari dan konsep bedaya semua sudah ada tapi masih belum berkenan untuk dipublikasikan. "Judulnya masih rahasia," kata Gusti Mangku sambil memberi isyarat rahasia dengan jari telunjuknya di depan wartawan yang mewawancarainya.

Tari bedaya itu akan dibawakan oleh sembilan penari tapi bukan putri Sultan. "Kami sudah gendut," kata Gusti Mangku sembari tertawa.

Bedaya karya Sri Sultan HB X ini berbeda dengan bedaya sebelumnya seperti Bedaya Harjuno Wiwoho yang diciptakan Sri Sultan HB X tahun 1997, Bedaya Amurwabhumi tahun 2005, dan Bedaya Harjuno Wijoyo tahun 2010. "Tari bedayanya hampir sama tapi alur ceritanya berbeda," kata Gusti Mangku.

Jumenengan Dalem tahun ini, menurut GKR Mangkubumi, hanya diperingati di internal kraton dan tidak dihadiri tamu undangan mengingat kondisi saat ini. "Kita sementara ngerem dulu, karena tentunya kesehatan menjadi prioritas," katanya.

Menilai 32 tahun Sri Sultan HB X naik tahta sebagai Raja Kraton Yogyakarta, Gusti Mangku mengatakan, selama 32 tahun Ngarsa Dalem itu mengabdi kepada masyarakat. "Yang saya rasakan, hidupnya Ngarsa Dalem itu untuk mengabdi. Jadi ora dumeh. Itu juga disampaikan kepada anak-anaknya bahwa kalau sudah selesai sekolah tugasnya mengabdi, ora ono liyane. Meski anak raja, anak gubernur kita tidak boleh semena-mena," kata Gusti Mangku.

Dalam momentum Jumenengan Dalem, Gusti Mangku mengaku tidak ada wejangan khusus dari Sultan. "Kita perempuan semua. Jadi bagaimana sebagai anak perempuan kita ya harus mandiri. Setelah selesai sekolah harus mencari uang sesuai pendidikan," katanya.

Gusti Mangku juga mengatakan, mungkin pandangan orang hidup kita enak. "Padahal kita tidak mendapat uang bulanan dari Bapak. Kita tidak disupport sama Bapak dalam artian kalau orang lain mungkin dikasih uang untuk membuat perusahaan, kita enggak, kita utang sama Bapak," kata Gusti Mangku.

Jadi, lanjutnya, Bapak Ibu mendidik anak-anaknya secara keras itu supaya benar-benar mandiri. Bisa berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung dengan orang lain. "Jadi kemandirian kepada kami ditanamkan betul," katanya.

Kecuali itu, menurut Gusti Mangku, Ngarsa Dalem juga mengatakan kepada anak-anaknya untuk terus mengabdi kepada masyarakat. "Tugasmu itu tidak ada lain selain mengabdi. Jadi jangan pernah punya pikiran yang lain," kata GKR Mangkubumi menirukan wejangan Ngarsa Dalem.(Wan)

Kredit

Bagikan